[Islam] Kedudukan Hadits “Tujuh Puluh Tiga Golongan Ummat Islam”

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

MUQADDIMAH
Akhir-akhir ini kita sering dengar ada beberapa khatib dan penulis yang membawakan hadits tentang tujuh puluh dua golongan ummat Islam masuk Neraka dan hanya satu golongan ummat Islam yang masuk Surga adalah hadits yang lemah, dan mereka berkata bahwa yang benar adalah hadits yang berbunyi bahwa tujuh puluh golongan masuk Surga dan satu golongan yang masuk Neraka, yaitu kaum zindiq. Mereka melemahkan atau mendha’ifkan ‘hadits perpecahan ummat Islam menjadi tujuh puluh golongan, semua masuk Neraka dan hanya satu yang masuk Surga’ disebabkan tiga hal:

  1. Karena pada sanad-sanad hadits tersebut terdapat kelemahan.
  2. Karena jumlah bilangan golongan yang celaka itu berbeda-beda, misalnya; satu hadits menyebutkan tujuh puluh dua golongan yang masuk Neraka, dalam hadits yang lainnya disebutkan tujuh puluh satu golongan dan dalam hadits yang lainnya lagi disebutkan tujuh puluh golongan saja, tanpa menentukan batas.
  3. Karena makna/isi hadits tersebut tidak cocok dengan akal, mereka mengatakan bahwa semestinya mayoritas ummat Islam ini menempati Surga atau minimal menjadi separuh penghuni Surga.

Dalam tulisan ini, insya Allah, saya akan menjelaskan kedudukan sebenarnya dari hadits tersebut, serta penjelasannya dari para ulama Ahli Hadits, sehingga dengan demikian akan hilang ke-musykil-an yang ada, baik dari segi sanadnya maupun maknanya.

JUMLAH HADITS TENTANG TERPECAHNYA UMMAT ISLAM
Apabila kita kumpulkan hadits-hadits tentang terpecahnya ummat menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan dan satu golongan yang masuk Surga, lebih kurang ada lima belas hadits yang diriwayatkan oleh lebih dari sepuluh Imam Ahli Hadits dari 14 (empat belas) orang Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu:

  1. 1. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
  2. 2. Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu.
  3. 3. ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma.
  4. 4. ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu.
  5. 5. Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu.
  6. 6. ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.
  7. 7. Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma.
  8. 8. Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu.
  9. 9. Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu.
  10. 10 Watsilah bin Asqa’ radhiyallahu ‘anhu.
  11. 11. ‘Amr bin ‘Auf al-Muzani radhiyallahu ‘anhu.
  12. 12. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.
  13. 13. Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu.
  14. 14. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

Sebagian dari hadits-hadits tersebut adalah sebagai berikut:

HADITS PERTAMA:
Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan.

Keterangan:
Hadits ini diriwayatkan oleh:

  1. 1. Abu Dawud, Kitab as-Sunnah, I-Bab Syarhus Sunnah no. 4596, dan lafazh hadits di atas adalah lafazh Abu Dawud.
  2. 2. At-Tirmidzi, Kitabul Iman, 18-Bab Maa Jaa-a fiftiraaqi Haadzihil Ummah, no. 2778 dan ia berkata: “Hadits ini hasan shahih.” (Lihat kitab Tuhfatul Ahwadzi VII/397-398.)
  3. 3. Ibnu Majah, 36-Kitabul Fitan, 17-Bab Iftiraaqil Umam, no. 3991.
  4. 4. Imam Ahmad, dalam kitab Musnad II/332, tanpa me-nyebutkan kata “Nashara.”
  5. 5. Al-Hakim, dalam kitabnya al-Mustadrak, Kitabul Iman I/6, dan ia berkata: “Hadits ini banyak sanadnya, dan berbicara tentang masalah pokok agama.”
  6. 6. Ibnu Hibban, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Mawaariduzh Zhamaan, 31-Kitabul Fitan, 4-Bab Iftiraqil Ummah, hal. 454, no. 1834.
  7. 7. Abu Ya’la al-Maushiliy, dalam kitabnya al-Musnad: Musnad Abu Hurairah, no. 5884 (cet. Daarul Kutub Ilmiyyah, Beirut).
  8. 8. Ibnu Abi ‘Ashim, dalam kitabnya as-Sunnah, 19-Bab Fii ma Akhbara bihin Nabiyyu -Shallallaahu ‘alaihi wa sallam- anna Ummatahu Sataftariqu, I/33, no. 66.
  9. 9. Ibnu Baththah, dalam kitab Ibanatul Kubra: Bab Dzikri Iftiraaqil Umam fii Diiniha, wa ‘ala kam Taftariqul Ummah? I/374-375 no. 273 tahqiq Ridha Na’san Mu’thi.
  10. 10. Al-Ajurri, dalam kitab asy-Syari’ah: Bab Dzikri Iftiraqil Umam fii Diinihi, I/306 no. 22, tahqiq Dr. ‘Abdullah bin ‘Umar bin Sulaiman ad-Damiiji.

Perawi Hadits:
a. Muhammad bin ‘Amr bin ‘Alqamah bin Waqqash al-Allaitsiy.
• Imam Abu Hatim berkata: “Ia baik haditsnya, ditulis haditsnya dan dia adalah seorang Syaikh (guru).”
• Imam an-Nasa-i berkata: “Ia tidak apa-apa (yakni boleh dipakai), dan ia pernah berkata bahwa Muhammad bin ‘Amir adalah seorang perawi yang tsiqah.”
• Imam adz-Dzahabi berkata: “Ia adalah seorang Syaikh yang terkenal dan hasan haditsnya.”
• Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata: “Ia se-orang perawi yang benar, hanya padanya ada beberapa kesalahan.”
(Lihat al-Jarhu wat Ta’dilu VIII/30-31, Mizaanul I’tidal III/ 673 no. 8015, Tahdzibut Tahdzib IX/333-334, Taqribut Tahdzib II/119 no. 6208.)
b. Abu Salamah, yakni ‘Abdurrahman bin ‘Auf: Beliau adalah seorang perawi yang tsiqah, Abu Zur’ah ber-kata: “Ia seorang perawi yang tsiqah.”
(Lihat Tahdzibut Tahdzib XII/115, Taqribut Tahdzib II/409 no. 8177.)

Derajat Hadits
Hadits di atas derajatnya hasan, karena terdapat Muhammad bin ‘Amr, akan tetapi hadits ini menjadi shahih karena banyak syawahidnya.

Imam at-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih.”

Imam al-Hakim berkata: “Hadits ini shahih menurut syarat Muslim dan keduanya (yakni al-Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya.” Dan al-Hafizh adz-Dzahabi pun menyetujuinya. (Lihat al-Mustadrak Imam al-Hakim: Kitaabul ‘Ilmi I/128.)

Ibnu Hibban dan Imam asy-Syathibi telah menshahihkan hadits di atas dalam kitab al-I’tisham (II/189).

Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany juga telah menshahihkan hadits di atas dalam kitab Silsilah Ahaadits ash-Shahiihah no. 203 dan kitab Shahih at-Tirmidzi no. 2128.

HADITS KEDUA: 
Hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan :

عَنْ أَبِيْ عَامِرٍ الْهَوْزَنِيِّ عَبْدِ اللهِ بْنِ لُحَيِّ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِيْ سُفْيَانَ أَنَّهُ قَامَ فِيْنَا فَقَالَ: أَلاَ إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِيْنَا فَقَالَ: أََلاَ إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ اِفْتَرَقُوْا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ. ثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ .

Dari Abu ‘Amir al-Hauzaniy ‘Abdillah bin Luhai, dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan, bahwasanya ia (Mu’awiyah) pernah berdiri di hadapan kami, lalu ia berkata: “Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri di hadapan kami, kemudian beliau bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan dan sesungguhnya ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, (adapun) yang tujuh puluh dua akan masuk Neraka dan yang satu golongan akan masuk Surga, yaitu “al-Jama’ah.”

Keterangan:
Hadits ini diriwayatkan oleh:
1. Abu Dawud, Kitabus Sunnah Bab Syarhus Sunnah no. 4597, dan lafazh hadits di atas adalah dari lafazh-nya.
2. Ad-Darimi, dalam kitab Sunan-nya (II/241) Bab fii Iftiraqi Hadzihil Ummah.
3. Imam Ahmad, dalam Musnad-nya (IV/102).
4. Al-Hakim, dalam kitab al-Mustadrak (I/128).
5. Al-Ajurri, dalam kitab asy-Syari’ah (I/314-315 no. 29).
6. Ibnu Abi ‘Ashim, dalam Kitabus Sunnah, (I/7) no. 1-2.
7. Ibnu Baththah, dalam kitab al-Ibaanah ‘an Syari’atil Firqah an-Najiyah (I/371) no. 268, tahqiq Ridha Na’san Mu’thi, cet.II Darur Rayah 1415 H.
8. Al-Lalikaa-iy, dalam kitab Syarah Ushul I’tiqad Ahlus Sunah wal Jama’ah (I/113-114) no. 150, tahqiq Dr. Ahmad bin Sa’id bin Hamdan al-Ghaamidi, cet. Daar Thay-yibah th. 1418 H.
9. Al-Ashbahani, dalam kitab al-Hujjah fii Bayanil Mahajjah pasal Fii Dzikril Ahwa’ al-Madzmumah al-Qismul Awwal I/107 no. 16.

Semua Ahli Hadits di atas telah meriwayatkan dari jalan:
Shafwan bin ‘Amr, ia berkata: “Telah menceritakan kepadaku Azhar bin ‘Abdillah al-Hauzani dari Abu ‘Amr ‘Abdullah bin Luhai dari Mu’awiyah.”

Perawi Hadits
a. Shafwan bin ‘Amr bin Haram as-Saksaki, ia telah di-katakan tsiqah oleh Imam al-‘Ijliy, Abu Hatim, an-Nasa-i, Ibnu Sa’ad, Ibnul Mubarak dan lain-lain.
b. Azhar bin ‘Abdillah al-Harazi, ia telah dikatakan tsiqah oleh al-‘Ijliy dan Ibnu Hibban. Al-Hafizh adz-Dzahabi berkata: “Ia adalah seorang Tabi’in dan haditsnya hasan.” Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Ia shaduq (orang yang benar) dan ia dibicarakan tentang Nashb.” (Lihat Mizaanul I’tidal I/173, Taqribut Tahdzib I/75 no. 308, ats-Tsiqat hal. 59 karya Imam al-‘Ijly dan kitab ats-Tsiqat IV/38 karya Ibnu Hibban.)
c. Abu Amir al-Hauzani ialah Abu ‘Amir ‘Abdullah bin Luhai.
• Imam Abu Zur’ah dan ad-Daruquthni berkata: “Ia tidak apa-apa (yakni boleh dipakai).”
• Imam al-‘Ijliy dan Ibnu Hibban berkata: “Dia orang yang tsiqah.”
• Al-Hafizh adz-Dzahabi dan Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata: “Ia adalah seorang perawi yang tsiqah.” (Lihat al-Jarhu wat Ta’dilu V/145, Tahdzibut Tahdzib V/327, Taqribut Tahdzib I/444 dan kitab al-Kasyif II/109.)

Derajat Hadits
Derajat hadits di atas adalah hasan, karena ada seorang perawi yang bernama Azhar bin ‘Abdillah, akan tetapi hadits ini naik menjadi shahih dengan syawahidnya.

Al-Hakim berkata: “Sanad-sanad hadits (yang banyak) ini, harus dijadikan hujjah untuk menshahihkan hadits ini. dan al-Hafizh adz-Dzahabi pun menyetujuinya.” (Lihat al-Mustadrak I/128.)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Hadits ini shahih masyhur.”
(Lihat kitab Silsilatul Ahaadits ash-Shahiihah I/405 karya Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany, cet. Maktabah al-Ma’arif.)

HADITS KETIGA:
Hadits ‘Auf bin Malik Radhiyallahu ‘anhu.

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِيْ الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِيْ النَّارِ، قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ هُمْ؟ قَالَ: الْجَمَاعَةُ.

Dari ‘Auf bin Malik, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Yahudi terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, satu (golongan) masuk Surga dan yang 70 (tujuh puluh) di Neraka. Dan Nasrani terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan, yang 71 (tujuh puluh satu) golongan di Neraka dan yang satu di Surga. Dan demi Yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, ummatku benar-benar akan terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, yang satu di Surga, dan yang 72 (tujuh puluh dua) golongan di Neraka,’ Ditanyakan kepada beliau, ‘Siapakah mereka (satu golongan yang masuk Surga itu) wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Al-Jama’ah.’

Keterangan
Hadits ini telah diriwayatkan oleh:
1. Ibnu Majah, dalam kitab Sunan-nya Kitabul Fitan bab Iftiraaqil Umam no. 3992.
2. Ibnu Abi ‘Ashim, dalam kitab as-Sunnah I/32 no. 63.
3. Al-Lalikaa-i, dalam kitab Syarah Ushul I’tiqaad Ahlis Sunah wal Jama’ah I/113 no. 149.

Semuanya telah meriwayatkan dari jalan ‘Amr, telah menceritakan kepada kami ‘Abbad bin Yusuf, telah menceritakan kepadaku Shafwan bin ‘Amr dari Rasyid bin Sa’ad dari ‘Auf bin Malik.

Perawi Hadits:
a. ‘Amr bin ‘Utsman bin Sa’ad bin Katsir bin Dinar al-Himshi.
An-Nasa-i dan Ibnu Hibban berkata: “Ia merupakan seorang perawi yang tsiqah.”
b. ‘Abbad bin Yusuf al-Kindi al-Himsi.
Ia dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Hibban. Ibnu ‘Adiy berkata: “Ia meriwayatkan dari Shafwan dan lainnya hadits-hadits yang ia menyendiri dalam meriwayatkannya.”
Ibnu Hajar berkata: “Ia maqbul (yakni bisa diterima haditsnya bila ada mutabi’nya).”
(Lihat Mizaanul I’tidal II/380, Tahdzibut Tahdzib V/96-97, Taqribut Tahdzib I/470 no. 3165.)
c. Shafwan bin ‘Amr: “Tsiqah.” (Taqribut Tahdzib I/439 no. 2949.)
d. Raasyid bin Sa’ad: “Tsiqah.” (Tahdzibut Tahdzib III/195, Taqribut Tahdzib I/289 no. 1859.)

Derajat Hadits
Derajat hadits ini hasan, karena ada ‘Abbad bin Yusuf, tetapi hadits ini menjadi shahih dengan beberapa syawahidnya.

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani mengatakan hadits ini shahih dalam Shahih Ibnu Majah II/364 no. 3226 cetakan Maktabut Tarbiyatul ‘Arabiy li Duwalil Khalij cet. III thn. 1408 H, dan Silisilah al-Ahaadits ash-Shahihah no. 1492.

HADITS KEEMPAT: 
Hadits tentang terpecahnya ummat menjadi 73 golongan diriwayatkan juga oleh Anas bin Malik dengan mempunyai 8 (delapan) jalan (sanad) di antaranya dari jalan Qatadah diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 3993:

Lafazh-nya adalah sebagai berikut:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ اِفْتَرَقَتْ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَإِنَّ أُمَّتِيْ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً؛ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ

Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, dan sesungguhnya ummatku akan terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan, yang semuanya berada di Neraka, kecuali satu golongan, yakni “al-Jama’ah.”

Imam al-Bushiriy berkata, “Sanadnya shahih dan para perawinya tsiqah.[1]

Hadits ini dishahih-kan oleh Imam al-Albany dalam shahih Ibnu Majah no. 3227.
(Lihat tujuh sanad lainnya yang terdapat dalam Silsilatul Ahaadits ash-Shahiihah I/360-361)

HADITS KELIMA:
Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dalam Kitabul Iman, bab Maa Jaa-a Fiftiraaqi Haadzihil Ummah no. 2641 dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash dan Imam al-Laalika-i juga meriwayatkan dalam kitabnya Syarah Ushuli I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah (I/111-112 no. 147) dari Shahabat dan dari jalan yang sama, dengan ada tambahan pertanyaan, yaitu: “Siapakah golongan yang selamat itu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

مَاأَنَا عَلَيْهِ وَ أَصْحَابِيْ

“Ialah golongan yang mengikuti jejakku dan jejak para Shahabatku.”

Lafazh-nya secara lengkap adalah sebagai berikut:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِيْ مَا أَتَى عَلَى بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلاَنِيَةً لَكَانَ فِيْ أُمَّتِيْ مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ وَإِنَّ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً، قَالُوْا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sungguh akan terjadi pada ummatku, apa yang telah terjadi pada ummat bani Israil sedikit demi sedikit, sehingga jika ada di antara mereka (Bani Israil) yang menyetubuhi ibunya secara terang-terangan, maka niscaya akan ada pada ummatku yang mengerjakan itu. Dan sesungguhnya bani Israil berpecah menjadi tujuh puluh dua millah, semuanya di Neraka kecuali satu millah saja dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga millah, yang semuanya di Neraka kecuali satu millah.’ (para Shahabat) bertanya, ‘Siapa mereka wahai Rasulullah?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Apa yang aku dan para Shahabatku berada di atasnya.’”
(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2641, dan ia berkata: “Ini merupakan hadits penjelas yang gharib, kami tidak mengetahuinya seperti ini, kecuali dari jalan ini.”)

Perawi Hadits
Dalam sanad hadits ini ada seorang perawi yang lemah, yaitu ‘Abdur Rahman bin Ziyad bin An’um al-Ifriqiy. Ia dilemahkan oleh Yahya bin Ma’in, Imam Ahmad, an-Nasa-i dan selain mereka. Ibnu Hajar al-Asqalani berkata: “Ia lemah hafalannya.”
(Tahdzibut Tahdzib VI/157-160, Taqribut Tahdzib I/569 no. 3876.)

Derajat Hadits
Imam at-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan, karena banyak syawahid-nya. Bukan beliau menguatkan perawi di atas, karena dalam bab Adzan beliau melemahkan perawi ini.
(Lihat Silsilatul Ahaadits ash-Shahiihah no. 1348 dan kitab Shahih Tirmidzi no. 2129.)

KESIMPULAN
Kedudukan hadits-hadits di atas setelah diadakan penelitian oleh para Ahli Hadits, maka mereka berkesimpulan bahwa hadits-hadits tentang terpecahnya ummat ini menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, 72 (tujuh puluh dua) golongan masuk Neraka dan satu golongan masuk Surga adalah hadits yang shahih, yang memang sah datangnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tidak boleh seorang pun meragukan tentang keshahihan hadits-hadits tersebut, kecuali kalau ia dapat membuktikan berdasarkan ilmu hadits tentang kelemahannya.

Hadits-hadits tentang terpecahnya ummat Islam menjadi tujuh puluh tiga golongan adalah hadits yang shahih sanad dan matannya. Dan yang menyatakan hadits ini shahih adalah pakar-pakar hadits yang memang sudah ahli di bidangnya. Kemudian menurut kenyataan yang ada bahwa ummat Islam ini berpecah belah, berfirqah-firqah (bergolongan-golongan), dan setiap golongan bang-ga dengan golongannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang ummat Islam berpecah belah seperti kaum musyrikin:

“Artinya : Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama me-reka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” [Ar-Rum: 31-32]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jalan keluar, jalan selamat dunia dan akhirat. Yaitu berpegang kepada Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya.

ALASAN MEREKA YANG MELEMAHKAN HADITS INI SERTA BANTAHANNYA
Ada sebagian orang melemahkan hadits-hadits tersebut karena melihat jumlah yang berbeda-beda dalam penyebutan jumlah bilangan firqah (kelompok) yang binasa tersebut, yakni di satu hadits disebutkan sebanyak 70 (tujuh puluh) firqah, di hadits yang lainnya disebutkan sebanyak 71 (tujuh puluh satu) firqah, di hadits yang lainnya lagi disebutkan sebanyak 72 (tujuh puluh dua) firqah, dan hanya satu firqah yang masuk Surga.

Oleh karena itu saya akan terangkan tahqiqnya, berapa jumlah firqah yang binasa itu?

Pertama, di dalam hadits ‘Auf bin Malik dari jalan Nu’aim bin Hammad yang diriwayatkan oleh al-Bazzar dalam kitab Musnad-nya (I/98) no. 172, dan Hakim (IV/ 430) disebut tujuh puluh (70) firqah lebih, dengan tidak menentukan jumlahnya yang pasti.

Akan tetapi, sanad hadits ini dha’if (lemah), karena di dalam sanadnya ada seorang perawi yang bernama Nu’aim bin Hammad al-Khuzaa’i.

Ibnu Hajar berkata, “Ia banyak salahnya.”

An-Nasa-i berkata, “Ia orang yang lemah.”

(Lihat Mizaanul I’tidal IV/267-270, Taqribut Tahdzib II/250 no. 7192 dan Silsilatul Ahaadits adh-Dha’ifah wal Maudhuu’ah I/148, 402 oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.)

Kedua, di hadits Sa’ad bin Abi Waqqash dari jalan Musa bin ‘Ubaidah ar-Rabazi yang diriwayatkan oleh al-Ajurri dalam kitab asy-Sya’riah, al-Bazzar dalam kitab Musnad-nya sebagaimana yang telah disebutkan oleh al-Hafizh al-Haitsami dalam kitab Kasyful Atsaar ‘an Zawaa-idil Bazzar no. 284. Dan Ibnu Baththah dalam kitab Ibanatil Kubra nomor 263, 267. Disebutkan dengan bilangan tujuh puluh satu (71) firqah, sebagaimana Bani Israil.

Akan tetapi sanad hadits ini juga dha’if, karena di dalamnya ada seorang perawi yang bernama Musa bin ‘Ubaidah, ia adalah seorang perawi yang dha’if.
(Lihat Taqribut Tahdzib II/226 no. 7015.)

Ketiga, di hadits ‘Amr bin ‘Auf dari jalan Katsir bin ‘Abdillah, dan dari Anas dari jalan Walid bin Muslim yang diriwayatkan oleh Hakim (I/129) dan Imam Ahmad di dalam Musnad-nya, disebutkan bilangan tujuh puluh dua (72) firqah.

Akan tetapi sanad hadits ini pun dha’ifun jiddan (sangat lemah), karena di dalam sanadnya ada dua orang perawi di atas.
(Taqribut Tahdzib II/39 no. 5643, Mizaanul I’tidal IV/347-348 dan Taqribut Tahdzib II/289 no. 7483.)

Keempat, dalam hadits Abu Hurairah, Mu’awiyah, ’Auf bin Malik, ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, Ali bin Abi Thalib dan sebagian dari jalan Anas bin Malik yang diriwayatkan oleh para imam Ahli Hadits disebut sebanyak tujuh puluh tiga (73) firqah, yaitu yang tujuh puluh dua (72) firqah masuk Neraka dan satu (1) firqah masuk Surga.

Dan derajat hadits-hadits ini adalah shahih, sebagaimana telah dijelaskan di atas.

TARJIH
Setelah kita melewati pembahasan di atas, maka dapatlah kita simpulkan bahwa yang lebih kuat adalah yang menyebutkan dengan 73 (tujuh puluh tiga) golongan.

Kesimpulan tersebut disebabkan karena hadits-hadits yang menerangkan tentang terpecahnya ummat menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan adalah lebih banyak sanadnya dan lebih kuat dibanding hadits-hadits yang menyebut 70 (tujuh puluh), 71 (tujuh puluh satu), atau 72 (tujuh puluh dua).

MAKNA HADITS
Sebagian orang menolak hadits-hadits yang shahih karena mereka lebih mendahulukan akal daripada wahyu, padahal yang benar adalah wahyu yang berupa nash al-Qur’an dan Sunnah yang sah lebih tinggi dan jauh lebih utama dibanding dengan akal manusia. Wahyu adalah ma’shum sedangkan akal manusia tidak ma’shum. Wahyu bersifat tetap dan terpelihara sedangkan akal manusia berubah-ubah. Dan manusia mempunyai sifat-sifat kekurangan, di antaranya:

Manusia ini adalah lemah, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

“Artinya : Dan diciptakan dalam keadaan lemah.” [An-Nisaa’: 28]

Dan manusia itu juga jahil (bodoh), zhalim dan sedikit ilmunya, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

“Artinya : Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesung-guhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh.” [Al-Ahzaab: 72]

Serta seringkali berkeluh kesah, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

“Artinya ; Sesungguhnya manusia itu diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” [Al-Ma’aarij : 19]

Sedangkan wahyu tidak ada kebathilan di dalamnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

“Yang tidak datang kepadanya (al-Qur’an) kebathilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Mahabijaksana lagi Mahaterpuji.” [Al-Fushshilat : 42]

Adapun masalah makna hadits yang masih musykil (sulit difahami), maka janganlah dengan alasan tersebut kita terburu-buru untuk menolak hadits-hadits yang sahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena betapa banyaknya hadits-hadits sah yang belum dapat kita fahami makna dan maksudnya.

Permasalahan yang harus diperhatikan adalah bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui daripada kita. Al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih tidak akan mungkin bertentangan dengan akal manusia selama-lamanya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwa ummatnya akan mengalami perpecahan dan perselisihan dan akan menjadi 73 (tujuh puluh tiga) firqah, semuanya ini telah terbukti.

Dan yang terpenting bagi kita sekarang ini ialah berusaha mengetahui tentang kelompok-kelompok yang binasa dan golongan yang selamat serta ciri-ciri mereka berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah yang sah dan penjelasan para Shahabat dan para ulama Salaf, agar kita termasuk ke dalam “Golongan yang selamat” dan menjauhkan diri dari kelompok-kelompok sesat yang kian hari kian berkembang.

Golongan yang selamat hanya satu, dan jalan selamat menuju kepada Allah hanya satu, Allah Subahanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepada-mu agar kamu bertaqwa.” [Al-An’am: 153]

Jalan yang selamat adalah jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sha-habatnya.

Bila ummat Islam ingin selamat dunia dan akhirat, maka mereka wajib mengikuti jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya.

Mudah-mudahan Allah membimbing kita ke jalan selamat dan memberikan hidayah taufiq untuk mengikuti jejak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya.

Wallahu a’lam bish shawab.

MARAJI’
1. Al-Qur-anul karim serta terjemahannya, DEPAG.
2. Shahih al-Bukhari dan Syarah-nya cet. Daarul Fikr.
3. Shahih Muslim cet. Darul Fikr (tanpa nomor) dan tarqim: Muhammad Fuad Abdul Baqi dan Syarah-nya (Syarah Imam an-Nawawy).
4. Sunan Abi Dawud.
5. Jaami’ at-Tirmidzi.
6. Sunan Ibni Majah.
7. Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, cet. Daarul Fikr, th. 1398 H.
8. Sunan ad-Darimi, cet. Daarul Fikr, th. 1389 H.
9. Al-Mustadrak, oleh Imam al-Hakim, cet. Daarul Fikr, th. 1398 H.
10. Mawaariduzh Zham-aan fii Zawaa-id Ibni Hibban, oleh al-Hafizh al-Haitsamy, cet. Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah.
11. Musnad Abu Ya’la al-Maushiliy, oleh Abu Ya’la al-Maushiliy, cet. Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah, th. 1418 H.
12. Kitaabus Sunnah libni Abi ‘Ashim, oleh Muhammad Nashiruddin al-Albani, cet. Al-Maktab al-Islamy, th. 1413 H.
13. Al-Ibanah ‘an Syari’atil Firqatin Najiyah (Ibaanatul Kubra), oleh Ibnu Baththah al-Ukbary, tahqiq: Ridha bin Nas’an Mu’thi, cet. Daarur Raayah, th. 1415 H.
14. As-Sunnah, oleh Imam Ibnu Abi ‘Ashim.
15. Kitaabusy Syari’ah, oleh Imam al-Ajurry, tahqiq: Dr. ‘Ab-dullah bin ‘Umar bin Sulaiman ad-Damiji, th. 1418 H.
16. Al-Jarhu wat-Ta’dil, oleh Ibnu Abi Hatim ar-Raazy, cet. Daarul Fikr.
17. Tahdziibut Tahdziib, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqa-lani, cet. Daarul Fikr.
18. Taqriibut Tahdziib, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqa-lani, cet. Daarul Fikr.
19. Mizaanul I’tidaal, oleh Imam adz-Dzahabi.
20. Shahiih at-Tirmidzi bi Ikhtishaaris Sanad, oleh Imam al-Albani, cet. Maktabah at-Tarbiyah al-‘Arabi lid-Duwal al-Khalij, th. 1408 H.
21. Silsilatul Ahaadits ash-Shahiihah, oleh Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani, cet. Makatabah al-Ma’arif.
22. Al-I’tisham, oleh Imam asy-Syathibi, tahqiq: Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaly, cet. II-Daar Ibni ‘Affan, th. 1414 H.
23. Syarah Ushul I’tiqad Ahlus Sunah wal Jama’ah, oleh Imam al-Lalikaa-iy, tahqiq: Dr. Ahmad bin Sa’id bin Hamdan al-Ghamidi, cet. Daar Thayyibah, th. 1418 H.
24. Al-Hujjah fii Bayaanil Mahajjah, oleh al-Ashbahani, tah-qiq: Syaikh Muhammad bin Rabi’ bin Hadi ‘Amir al-Madkhali, cet. Daarur Raayah, th. 1411 H.
25. Ats-Tsiqaat, oleh Imam al-’Ijly.
26. Ats-Tsiqat, oleh Imam Ibnu Hibban.
27. Al-Kasyif, oleh Imam adz-Dzahaby.
28. Silsilatul Ahaadits adh-Dhai’fah wal Maudhuu’ah oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany.
29. Shahih Ibnu Majah, oleh Syaikh Muhammad Nashirud-din al-Albany, cetakan Maktabut Tarbiyatul ‘Arabiy lid-Duwalil Khalij, cet. III, thn. 1408 H.
30. Mishbahuz Zujajah, oleh al-Hafizh al-Busairy.
31. Kasyful Atsaar ‘an Zawaa-idil Bazzar, oleh al-Hafizh al-Haitsami.

[Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama Ramadhan 1425H/Oktober 2004M]
_______
Footnote
1] Lihat kitab Mishbahuz Zujajah (IV/180). Secara lengkap perkataannya adalah sebagai berikut: Ini merupakan sanad (hadits) yang shahih, para perawinya tsiqah, dan telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad juga dalam Musnad-nya dari hadits Anas pula, begitu juga diriwayatkan oleh Abu Ya’la al-Maushiliy.

Sumber: almanhaj.or.id

Advertisements

[Islam] Membela Sunnah Sahabat

(Tafsir Surat at-Taubah [9]: 100)

MEMBELA SUNNAH SAHABAT

Surat at-Taubah [9]: 100

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ ۝

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Alloh dan Allph menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.

Oleh: Al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron

MUQODDIMAH

Dakwah Salafiyah, pembelaan atas sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sunnah sahabat radhiyallahu ‘anhumalhamdulillah mendapatkan sambutan hangat dari kalangan penuntut ilmu. Akan tetapi ada saja kelompok yang tidak senang dengan perkembangan dakwah mubarokah ini, bahkan memfitnahnya. Mengapa mereka berbuat demikian?! Karena dakwah salafiyyah ini selalu mendengungkan dua sunnah, sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sunnah para sahabatnyaTidak mau larut dalam urusan politik, tidak mau ikut pesta demokrasi, senantiasa membahas tauhid, syirik, bid’ah, tidak sejalan dengan dakwah hizbi, haroki atau golongan lain, sering mengoreksi kesalahan mereka dan tokoh mereka, sehingga banyak yang menganggap dakwah salafiyyah ini perlu dibendung dengan berbagai alasan yang pada dasarnya hanya karena hawa nafsu belaka.

Penghasud dakwah yang suci ini pasti selalu ada. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallammengabarkan bahwa umatnya akan berpecah-belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, dan ini sudah terjadi. Satu golongan yang dikatakan oleh Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam -orang yang mengikuti aku pada hari ini dan sahabatku- dimusuhi oleh tujuh puluh dua golongan yang mengaku dirinya muslim. Siapakah pembela dakwah ini dan siapa musuhnya? Inilah yang akan kami sampaikan, semoga Alloh senantiasa memberi taufik dan hidayah dan menjadi pembelanya.

MAKNA  AYAT SECARA UMUM

Ibnu Qoyyim rahimahullahu berkata: “Mereka yang disebut dalam ayat ini adalah orang yang beruntung, karena Alloh telah meridhoi me­reka. Mereka adalah para sahabat Rosulullohshallallahu ‘alaihi wa sallam dan siapa saja yang mengikuti mereka sampai hari Kiamat, tidak hanya terbatas generasi yang pernah melihat mereka saja. Adapun Alloh mengkhususkan menyebut para tabi’in yang pernah melihat sahabat, agar mereka dikenal dan dibedakan dengan generasi sesudahnya. Dan ada yang berpendapat, para tabi ‘in secara mutlak pada abad itu saja. Jika tidak, maka semua orang yang mengikuti jalan mereka tergolong tabi’in (pengikutnya yang baik), termasuk orang yang diridhoi Alloh dan mereka ridho kepada-Nya. Selanjutnya Alloh menyebutkan ‘pengikut yang baik’, bukan hanya sekedar berminat ikut, atau hanya mengikuti sebagian dan meninggalkan sebagian yang lain, akan tetapi dalam arti mengikuti semua sunnahnya dengan baik.” (Bada’iuTafsir 2/372)[1]

MAKNA SAHABAT

Pada ayat di atas kita men­jumpai pembahasan tentang sahabat radhiyallahu ‘anhumKata sahabat (الصحابة)  diambil dari kata صحب artinya menemani dan menolong, seperti, صاحبك الله (semoga Alloh menolongmu). (Lisanul Arab 1/519)

Adapun makna sahabat se­cara istilah, Imam Bukhori rahimahullah berkata: “Sahabat yaitu orang Is­lam yang menemani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau yang pernah melihatnya.”(Shohih Bukhori 2I1222).

Al-Handz Ibnu Hajar al-Asqolani berkata: “Sahabat ialah orang yang menjumpai Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam dia itu mu’min dan meninggal dunia dalam keadaan Islam, sekalipun pernah murtad, menurut pendapat yang paling kuat. (Nuhbatul Fikar 1/21)

DALIL KEUTAMAAN SAHABAT

Keutamaan sahabat banyak disebutkan dalam al-Qur’an maupun hadits yang shohih, di antaranya;

  • Mereka diridhoi oleh Alloh Ta’ala sebagaimana keterangan ayat  di atas.
  • Alloh telah menerima taubat atas kesalahan mereka. (Lihat surat at-Taubah [9]: 117)
  • Pembela hukum Alloh dan Rosul-Nya.  (Lihat surat al-Hasr [59]: 8)
  • Mereka   berperang   membela agama Alloh. (Lihat surat al- Anfal [8]:72)
  • Ridho    meninggalkan    harta bendanya untuk hijrah fi sabilillah. (Lihat an-Nahl [16]: 41)
  • Mereka saling mencintai dan membantu  yang  membutuhkan. (Lihat al-Hasr [59]: 9)
  • Mereka membaiat Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam taat kepadanya, menjalankan perintahnya dan mening­galkan larangannya. (Lihat su­rat al-Fath [48]: 18)
  • Hidup pada kurun yang mulia dan sebaik-baik umat.

Dari ‘Imron bin Husain radhiyallahu ‘anhuNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian yang datang sesudah mereka lalu yang dating sesudah mereka. (HR. Bukhori 2457)

  • Mereka menjadi panutan un tuk umat berikurnya. Dari al-’Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Maka wajib bagimu mengikuti  sunnahku dan sunnah kholifah yang menyampaikan petunjuk dan mendapatkan petunjuk (HR. Ibnu Majah. Ahmad dari Abu Dawud, dishohihkan oleh al-Albani dalam Silsilah Hadits Shohihah 6/238)

Abdulloh Ibnu Mas’ud berkata: “Sesungguhnya Alloh melihat hati hamba-Nya, maka Dia menjumpai hati Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam paling baiknya hati, maka Alloh memilihnya dan mengutusnya dengan risalah. Lalu melihat hati hamba-Nya setelah hati Muham­mad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Dia menjumpai hati sahabatnya sebaik-baik hati, maka mereka dijadikan sebagai pembantunya, mereka berperang untuk membela agamanya. (Lihat Syarah ath-Thohawiyah 1/530. Atsar ini dihasankan Syaikh al-Albani )

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata: “Dan sebaik-baik umat sesudah Nabinya adalah Abu Bakar ash-Shiddiq, lalu Umar bin al-Khoththob, lalu Ustman bin Affan radhiyallahu ‘anhum.Kami mendahulukan mereka yang tiga ini sebagaimana para sahabat Rosulullohshallallahu ‘alaihi wa sallam men­dahulukan mereka, dan mereka pun tidak berselisih dalam hal ini. Setelah mereka bertiga ini adalah lima dewan musyawarah: Ali bin Abi Tholib, Tholhah, az-Zubair, Abdurrahman bin Auf dan Saad bin Abi Waqqos radhiyallahu ‘anhumMereka ini berhak menjadi kholifah, dan mereka semua imam. Pendirian kami inikembali kepada hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma. (Ushulus Sunnah Imam Ahmad: 60)

MAKNA CINTA KEPADA PARA SAHABAT

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata: “Termasuk bagian dari sunnah; berwala’ dan mencintai srhabat Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam, menyebut kebaikannya, memuliakannya, memintakan ampun dosanya, tidak rnembicarakan kesalahan dan perselisihan mereka, meyakini kemuliaan mereka dan meyakini bahwa mereka pendahulu dalam hal kebaikan sebagaimana dalam surat al-Hasyr [59]: 10 dan al-Fath [48]: 29 (LihatSyarah Lumatul I’tiqod: 150)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Kita wajib mencintai sahabat dengan hati dan memujinya, dikarenakan mereka menyampaikan yang ma’ruf dan yang ihsan (bagus lagi membagusi). Kita wajib memuliakan mereka dan memintakan ampun dosa mereka untuk merealisasikan fjrman-Nya dalam surat al-Hasr [59]: 10. Adapun kita dilarang menyebut kesalahan salah satu di antara mereka, karena kesalahan mereka itu sedikit, sedangkan kebaikan mereka banyak sekali, dan kesalahannya adalah sebab ijtihadnya yang diampuni oleh Alloh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

Janganlah kamu mencela sahabatku, seandainya salah satu di antara kamu berinfak semisal gunung Uhud berupa emas, tidak akan mencapai satu mud salah satu di antara meraka dan tidaklah pula separuhnya. (HR. Bukhori: 3397 bersumber dari Abu Sa’id al-Khudri radhiuallahu ‘anhu(Syarah Lumatul I’tiqod: 151)

WAJIB BERMANHAJ DENGAN MANHAJ PARA SAHABAT

Mengapa kita harus berpegang dengan manhaj dan pemahaman sahabat radhiuallahu ‘anhum dalam memahami ayat al-Qur’an atau as-Sun-nah!?

Dalil naqli:

Dari keterangan dalil di atas dapat dipahami:

  • Alloh menjadikan mereka sebagai teman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Alloh meridhoi mereka dan mereka pun ridho kepada-Nya.
  • Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita agar kembali kepada sunnahnya dan sunnah sahabatnya.
  • Mereka   sebaik-baik   generasi yang bertemu langsung dengan
    Rosululloh     shallallahu ‘alaihi wa sallam,     mendapatkan ilmu  dan bimbingannya dan menyertai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika di padang Arofah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta persaksian dari para sahabat atas wahyu yang disampaikan,  “Bukankah   akutelah menyampaikannya ?” Maka serentak   para   sahabat   menjawab:“Balaa ya Rosululloh (ya benar wahai Rosululloh).”
  • Alloh menjadikan mereka bersatu dan tidak berpecah-belah (Lihat surat Ali Imron [3]: 103)
  • Mereka yang paling  selamat lisan   dan   hatinya   dari   kebathilan   (Lihat   surat   al-Hasr [59]: 10)
  • Golongan yang selamat dari api neraka dan dijanjikan masuk surga  sebagaimana  diterangkan dalam hadits yang shohih dan ayat di atas.
  • Mereka tergolong orang yang kembali kepada jalan Alloh Ta’ala yang benar. (Lihat surat Luqman [31]:15)

Ibnu al-Qoyyim rahimahullah berkata: “Dan semua sahabat kembali ke­pada jalan Alloh, maka wajib bagi kita semua mengikuti jalan me­reka, baik dalam perkataan dan perbuatannya. Adapun mereka kembali kepada jalan Alloh Ta’ala, bacalah surat asy-Syuro[42]: 13 (I’lamul Muwaqi’in  4/113)

Adapun dalil secara akal:

  • Kita bisa mengetahui aqidah dan cara ibadah dan muamalah lewat   para   sahabat,   mereka telah lebih dahulu beriman, beramal dan berdakwah.
  • Mustahil   umat   Islam   akan bersatu tanpa kembali kepada pemahaman   sahabat.   Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahber­kata: “Termasuk Usul as-Sunnah yang pertama; Berpegang
    teguh dengan apa yang diilmui oleh para sahabat Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam(Usul as-Sunnah: 25)

Mungkin ada yang bertanya: “Mengapa tidak (cukup, -admin) berpegang teguh kepada al-Quran dan as-sunnah?” Ketahuilah perbedaan as-Salafus sholih dengan ahli bid’ah, hizbi dan harokibukan dari sisi dalil yang digunakan, mereka semua juga berdalil dengan al-Qur’an dan hadits. Mereka berselisih karena dalam hal pemahaman. Salafiyyun mengembalikan pema­haman dalil dengan pemahaman para sahabat dan pengikutnya, sedangkan Hizbiyyin dan Harokiyyun kembali kepada hawa nafsu dirinya atau tokohnya. Bagaimana umat Islam bisa bersatu?

Alloh mengancam orang yang tidak mau kembali kepada pema­haman Salafus sholih akan diporak-porandakan, berpecah-belah, jauh dari kebenaran dan diancam dengan neraka sebagaimana firman-Nya:

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيراً ۝

Dan barangsiapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalanyang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah di-kuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. an-Nisa’ [4]:115)

Al-Muhadits al-Albani rahimahullah berkata: “yang dimaksud ‘dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min’,dan yang pertama kali yang masuk di dalam keumuman ayat ini adalah para sahabat Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam(Fitnatut Takfir 1/3, Syaikh al-Albani)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Jika kamu ikut orang, ikutilah sahabat Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam, karena mereka adalah manusia yang pa­ling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, yang paling mendapatkan petunjuk, yang paling baik perangai dan akhlaqnya. Mereka dipilih oleh Alloh untuk menemani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kenalilah keutamaan mereka dan ikuti jejak mereka, karena mereka di atas jalan yang lurus. (Dikeluarkan Ibnu Abdil Bar Kitab Jami’ Bayanil Ilmi: 1810)

Imam Malik rahimahullah berkata: “Dan tidak akan baik perkara umat pada zaman sekarang ini melainkan kembali seperti pendahulunya (para sahabat). (Lihat Qosidah Ibnu Abi Dawud,1/62)

Abul Aliyah berkata: “Kalian wajib kembali kepada generasi pertama (para sahabat) sebelum terjadi perpecahah (al-Muntaqo an-Nafis min Talbis lblis: 33)

Abu Amr al-Auza’i berkata: “Kalian wajib kembali kepada atsar as-Salaf sekalipun banyak manusia menolakmu, dan jauhilah pendapat orang sekali pun menarik bahasanya. (al-Ajuri fisy-Syari’ah: 58)

Imam al-Auza’i berkata: “Tempuhlah jalan as-Salafus Sholih, karena hal itu akan mencukupi dirimu. (al-Lalakai fis-Sunnah, 1/54)

Muhammad bin Sirin berkata: “Ulama sunnah berkata: ‘Jika ada orang yang mengikuti ahli atsar, ketahuilah mereka di atas jalan yang haq.’” (al-Ibanah “An Syariatil-Firqotin Najiah, Ibnu Baththoh: 242)

Imam al-Barbahari berkata: “Kamu harus mengikuti atsar dan ahli atsar, kepada mereka hendaknya kamu bertanya dan bergaul.” (Syarhus Sunnah: 30)

Ijma’ ulama dan ahli hadits menerima riwayat dari sahabat tanpa komentar.

PEMBELA SUNNAH TETAP TEGAR

Sekalipun pembenci para sa­habat serta pelanjutnya bermunculan dengan berbagai usaha untuk memadamkannya, akan tetapi Alloh mempunyai kehendak untuk menghidupkannya.

يُرِيدُونَ لِيُطْفِؤُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ۝

Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Alloh dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Alloh tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. (QS. ash-Shof [61]: 8)

Dan Alloh berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.(QS. Yusuf [12]: 21)

Syaikh Salim bin al-’Ied al-Hilali berkata: “Ayat ini menunjukkan bahwa tetap ada sekelompok dari kaum muslimin yang menegakkan syariat Allah, tidaklah membahayakan mereka tipu daya musuh sehingga Allag menentukan perkara-Nya. (Limadza Ihhtartu Manhaj as-Salafi 22-23)

Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Senantiasa ode segolongan dari umatku ini dimenangkan  atas haq, tidaklah membahayakan diri mereka orang yang merendahkan me­reka sampai datang ketentuan Alloh (HR. Muslim: 3/1523)

SIAPA PEMBELA SUNNAH SAHABAT

Pembela as-Sunnah adalah Ahlus Sunnah wal-Jama’ah, Thoifah Manshuroh, Firqotun Najiah, Ahlul Atsar, as-Salafus Sholih; mereka adaiah pembela sunnah. Adapun sifat mereka:

1.  Menyenangi sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Imam al-Barbahariberkata: “Apabila engkau melihat orang yang menyenangi sahabat Abu Huroiroh, Anas bin Malik, dan Usaid bin Khudhoir radhiyallahu ‘anhum, sebutlah mereka itu ahli Sunnah insya Allah.(Syarhu Sunnah oleh Imam Barbahari: 119 Tahqiq ar-Rodadi)

2.Mencintai ahli hadits
Berkata   Abu   Hatim   kepada anaknya: “Jika kamu melihat orang yang mencintai  Imam Ahmad bin Hambal, ketahuilah dia itu pembela sunnah.” (Syarhus Sunnah: 107)

3.  Mendoakan baik kepada waliyul amri

Imam al-Barbahari berkata: “Jika kamu melihat orang yang mendoakan kebaikan kepada pemimpinnya, ketahuilah dia itu pembela sunnah insya Allah.”

4.  Membenci  bid’ah dan ahlinya

Jamal bin Farihan al-Haristi –hafidzahullah- ber­kata: “Jika kamu melihat orang mencintai Alus Sunnah dimana pun berada dan membenci ahli bid’ah dan penyembah hawa nafsu dimana pun berada dan dimana pun mereka pergi, ke-tahuilah dia itu ahli Sunnah (Lummud Durul Manstur minal-Qoulil Ma’stur. 18)

5.  Menjauhi bergaul dengan ahli bid’ah

Ibnu Mubarok rahimahullah berkata: “Janganlah kamu bergaul de­ngan ahli bid’ah.” (al-Ibanah:2/463)

6.  Tidak memperdebatkan syariat Islam

hnam Ahmad rahimahullah berkata: “Janganlah kamu bergaul de­ngan ahli kalam (yang suka mempermasalahkan ayat mutasyabihat) sekalipun mereka mengaku membela as-Sunnah, sesungguhnya pikiran mereka jelek.” (Al-Ibanah 2/540)

Adapun sifat yang lain banyak sekali, misalnya, ketika khotbah atau tatkala menulis selalu mendahulukan ayat al-Qur’an, as-Sun­nah dengan pemahaman Salafus sholih. Mengutamakan dakwah tauhid, memberantas kemusyrikan, bid’ah dan kemaksiatan lainnya, memperbaiki akhlak, demikian juga memerintahkan yang wajib dan yang sunnah.

BAHAYA ORANG YANG MENOLAK MANHAJ PARA  SAHABAT

Orang yang membenci dan menolak manhaj sahabat pasti berbahaya, di antaranya:

  • Mereka  dijauhkan  dari jalan yang haq. Lihat surat an-Nisa’ [4]: 115 di atas.
  • Hatinya tertutup, sulit menerima petunjuk.

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ ۝

Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allahtiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.(QS Shof [61]: 5)

  • Mereka pasti bermusuhan satu sama lain. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Se­sungguhnya kalian hidup akan menjumpai perselisihan yang banyak, maka kalian wajib berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rosyidin yangmendapat petunjuk.” (HR. Abu Dawud: 3851)
  • Enggan bertobat, karena tidak merasa bersalah. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

Sesungguhnya Allah menghalangi taubatnya setiap pelaku bid’ah. (Hadits shohih, lihat Silsilah Shohihah, Syaikh al-Al-bani: 1620) ‘

Bahaya yang lain, bila mereka membenci sahabat pasti memben­ci apa yang disampaikan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan meninggalkan aqidah dan ibadah yang sesuai dengan sunnah, sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok Sufi, dan pasti jatuh kepada perkara bid’ah, memakai dasar hawa nafsu, perasaan dan impian. Demikian juga cara dakwah mereka.Naudzu bi-llahi min dzalik.

HUKUM BAGI ORANG YANG MELECEHKAN SAHABAT

Imam Nawawi rahimahullahberkata: “Ketahuilah bahwa mencela saha­bat hukumnya haram, dan paling kejinya perkara yang haram, sama saja mereka mencela sahabat yang hidup pada zaman fitnah atau sebelumnya, karena perselisihan mereka dalam perkara ijtihadiah.

Al-Qodhi rahimahullahberkata: “Mencaci salah satu sahabat adalah perbuatan dosa besar, sedangkan menurut madzhab kami dan madzhab Jumhur; Pencaci wajib dihukum, akan tetapi tidak dibunuh. sedangkan menurut sebagian madzhab Imam Malik, mereka dibunuh. (Syarah Shohih Muslim, 16193)

Abu Musa Abdurrozzaq bin Musa berkata: “Di antara usul Ahlus Sunnah Salafiyyin menahan diri, tidak menyebut kejelekan para sahabat, tidak membicara-an perselisihan mereka, karena mereka tiang agama, pemimpinnya, penolong Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam, pembelanya, pembantunya dan pengikutnya.” (al-Is’ad fi Syarhi Lum’atiU’tiqod)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ber­kata: “Mencaci sahabat ada tiga macam;
(1) Mencaci yang mengakibatkan umumnya mereka kufur atau fasik, maka hukumnya kufur disebabkan mendustakan Alloh dan Rosul-Nya. Padahal kita disuruh memuliakan dan memintakan ampun kesalahan mereka..
(2) Mencelanya dengan melaknat atau menjelek-jelekan. Apakah pelaku pencelaan ini dihukumi kufur? Dalam hal ini ada dua pendapat dari kalangan ahli ilmu (ada yang mengkafirkan dan ada yang tidak mengkafirkan); Adapun bagi mereka yang tidak mengkafirkannya, pelaknatnya dipukul atau dipenjara sehingga mati, atau disuruh mencabut perkataanya.
(3) Mereka dicela, akan tetapi tidak dicela agamanya. Misal sahabat dikatakan penakut, bakhil, pelaku pencelaan ini tidak dihukumi kafir, akan tetapi wajib dihukum agar dia takut dan berhati-hati. (Syarah Lum’atil  I’tiqod: 152)

SIAPA ORANG YANG MENGHINA SAHABAT

Penghina dan pembenci para sahabat bukan hanya dari kalangan orang kafir musyrik seperti orang Yahudi dan Nasrani, akan tetapi dari firqoh kaum muslimin yang tersesat sebagai mana diterangkan oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa umatnya akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan yang selamat hanya satu, sedangkan lainnya musuhnya. Musuh ahli sunnah adalah ahli bid’ah, pengikut hawa nafsu, sedangkan tokohnya ada lima: Khowarij, Syiah, Qodariah, Murji’ah, dan Jahmiyah. Untuk lebih jelasnya baca kitab Mauqifu Ahli Sunnah wal Jamaah min-Ahlil Ahwa’i wal-Bida’ 1/137-153. Oleh Dr. Ibrohim Amir ar-Ruhaili.

Syaikh Abu Usamah al-Hilali berkata: “Adapun Mu’tazilah bagaimana mereka mengaku sepakat dengan sahabat, padahal mereka mencela para pemuka sahabat yang paling mulia, mereka menolak kejujurannya, bahkan menggolongkan mereka orang yang tersesat sebagaimana perkataan Wasil bin Atho’: “Andaikan Ali, Tholhah dan Zubair bersaksi atas seikat sayur tidaklah aku menerima persaksian mereka.” (Limadza Ikhtartu Man-haj Salafi: 96) Adapun Khowarij sungguh mereka telah keluar dari Islam, dan menyimpang dari jama’ah kaum muslimin, di antara madzhab mereka; Mengkafirkan Ali bin Abi Tholib dan dua anaknya, Ibnu Abbas, Ustman, Tholhah, Aisyah, Mu’awiyah, me­reka menghina sahabat bahkan mengkafirkannya. Adapun kelompok Sufi, mereka menghina pewaris Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan melecehkan para penukil al-Qur’an dan sunnah, mereka menilai sahabat adalah orang yang mati. Pembesar Sufi berkata: “Apakah kamu ambil ilmu dari orang yang mati? sedangkan kami mengambil ilmu dari yang hidup yang tidak akan mati.” Mereka berkata: “Hatiku bercerita dari Tuhanku.” Adapun Syi’ah sungguh dia menuduh para sahabatradhiyallahu ‘anhumtelah murtad setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia, hanya sedikit yang beriman. Khumaini sebagai cermin mereka pada zaman sekarang, mencela dan menghina dua sahabat besar, yaitu Abu Dakar dan Umar radhiyallahu ‘anhumaLihat kitabKasful Asror halaman 131. Adapun Murji’ah berkeyakinan bahwa iman orang munafiq seperti imannya pendahulu umat dari kalangan sahabat Muhajirin dan Anshor (Limadza IkhtartuManhaj Salaf: 96-98)

Sedangkan ciri lain orang yang menghina sahabat dari ka­langan ahli bid’ah ini sebagai berikut:

  • Mereka suka berpecah-belah. Baca surat Ali Imron [3]: 105, al-An^am [6]: 159.
  • Mengikuti hawa nafsu, Baca surat al-Jaastiyah [45]: 23.
  • Selalu membahas ayat mutasyabihat.

Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Apabila kamu melihat orang yang mencari-cari ayat mutasyabihat, mereka itulah yang disebut oleh Allah di dalam su­rat al-Imron: 7 maka berhati-hati dan waspadalah kepada mereka.” (Fathul Bari 8/209)

  • Menolak hadits,bila bertentang-an dengan al-Qur’an. Padahal  Rosululloh   shallallahu ‘alaihi wa sallam ber­sabda (yang artinya): “Ingatlah sesungguhnya apa yang diharamkan oleh Rosululloh hallallahu ‘alaihi wa sallam hukumnya   seperti   yang   diharamkan oleh Allah.”(HR. Ibnu Majah, dishohihkan al-Albani Shohih Sunan Ibnu Majah 1/7)
  • Membenci ahli hadits dan ahli atsar.

Ahmad bin Sannan al-Qothon berkata: “Tidak ada di dunia ini ahli bid’ah melainkan pasti membenci ahli hadits.” (Diriwayatkan oleh Ismail ash-Shobuni, Aqidatus Salaf Ash-habul Hadits: 132)

  • Mengolok-olok   ahli   sunnah atau ahli hadits.

Abu Ustman al-Shobuni rahimahullah berkata: “Tanda pelaku bid’ah jelas sekali, yang paling nampak, sangat memusuhi pembawa dan penyampai hadits Nabi, mereka menghinanya dan memberi nama dan gelar yang buruk seperti hasyawiyah (orang-orang pinggiran yang mengumpulkan hal-hal yang tidak berguna), jahalah (bodoh), dhohiriyah(tekstualis/fundamentalis), musyabihah (menyerupakan Alloh dengan makhluk-Nya). Mereka beranggapan bahwa orang yang berpegang kepada hadits Nabi adalah orang yang jauh dari pengetahuan, sesungguhnya ilmu menurut mereka adalah bisikan setan yang ada pada pikiran mereka yang rusak.(Aqidatu Ashhabil Hadits: 102)

  • Membantah dalil naqli.
    Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):   ‘Orang  yang  palingdibenci Alloh adalah orang yangbanyak dan sering membantah.”(HR. Bukhori 2/867)
  • Menolak pemahaman as-Salaf.
    Padahal mestinya umat Islam harus kembali kepada pema­haman as-Salafus Sholih sebagaimana dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal pada usul sunnah yang pertama seperti
    yang dijelaskan di atas.
  • Mengkafirkan kelompok yang tidak sepakat dengan mereka tanpa dalil.

Sebagaimana firqoh Khowarij dan Mu’tazilah yang  mengkafirkan sahabat radhiyallahu ‘anhumdan sahabat lainnya.

MENYIKAPI PENGHINA  SAHABAT

  • Wajib menasehati mereka de­ngan al-Qur’an dan as-Sunnah shohihah dengan pemahaman salafus sholih.  Ingatkan me­reka bahwa melecehkan saha­bat boleh jadi kafir. Lihat surat at-Taubah [9]: 65-66.
  • Menjauhi bergaul dengan me­reka. Lihat surat an-Nisa’[4]: 140   dan   keterangan   ulama
    sunnah seperti di atas.
  • Mentahdzirnya    sampai    dia berhenti.    Hendaknya    menjauhkan mereka dari umat agar
    bahayanya tidak menyebar ke­pada yang lain, tentu bila ada faidahnya.  Lihat  firman-Nya
    pada surat an-Nur [24]: 63
  • Hendaknya tidak berdebat de­ngan mereka[2]. Imam Ahmad rahimahullah     berkata:     “Tinggalkan berdebat dan bergaul dengan pengikut hawa nafsu.” (UsulSunnah, 30 Imam Ahmad)
  • Hendaknya tidak mendengarkan pembicaraannya dan tidak membaca kitabnya[3]. Mubasyir bin Ismail al-Halabi berkata: “Ada orang yang berkata kepa­da Imam al-Auza’i: ‘Ada orang yang berkata: ‘Saya berteman dengan ahli sunnah dan ahli
    bid’ah.’ Imam al-Auza’i berkata: ‘Orang itu ingin menyamakan antara yang haq dan yang bathil.’” (al-Ibanah 2/456)

Al-Fudhail bin ‘lyadh berkata: “Janganlah kamu berteman dengan ahli bid’ah, saya kha-watir kamu dilaknat.” (al-Lali-kai: 397 sanadnya shohih)

Akhirnya semoga Alloh Ta’ala mengembalikan kita semua ke­pada pemahaman salafus sholih yang diridhoi-Nya dan diberi kesabaran ketika membela dan mengamalkannya.

Sumber: AL FURQON         edisi 11 tahun ke-6, hal. 7-12, 35


[1] Keterangan Syaihul Islam Ibnul Qoyyim rahimahullah ini membantah tuduhan Lathif Awaluddin, MA atas tulisannya “Salafiyyah, Manhaj atau Madzhab?” Dia berkata: “Kata salaf pada dasarnya bermakna kurun (al-qururi) suatu periode sejarah yang tidak mungkin terulang lagi.” (Risalah No: 9 Th. 44 Desember 2006) dan membantah buku ‘Membantah Kedok Salafiyyun Sempalan’ oleh Tim Studi Kelompok Sunniyyah dan diterbitkan oleh Pustaka MIM. Pada halaman 7-8 mereka berkata: “Manhaj Ahlus Sunnah terkadang pula disebut atau dinamakan dengan istilah Salafiyyah, walaupun sebenarnya nama Salafiyyah tidak mendapatkan legitimasi resmi sebagai nama lain dari manhaj Ahlus Sunnah. Salafiyyahhanyalah merupakan kata atau istilah bantu untuk memastikan bahwa as-Salaf ash-Sholih (tiga generasi pertama) berjalan di atas manhaj tersebut.”

[2] Kecuali apabila terpenuhi syarat-syarat diperbolehkan debat dengan mereka; seperti, pendebatnya adalah orang yang benar-benar mengetahui ilmu syar’i, mengetahui kelemahan-kelemahan hujah mereka dan tidaklah bertujuan kecuali untuk membela dan menampakan kebenaran dengan hujah yang kuat dan menyingkap segala syubhat mereka. (red.)

[3] Kecuali untuk mengetahui hujah-hujah mereka untuk dibantah dan dijelaskan kepada umat. Hal ini bagi seorang yang telah mapan ilmu syar’i yang dimilikinya. (red.)

Sumber: maktabahabiyahya.wordpress.com

[Islam] Kehidupan Luar Angkasa Dalam Alqur’an

 

Bismillah,
Sejak lama, persoalan UFO (Unidentified Flying Objeck) atau sering di sebut dengan “piring terbang” masih menjadi misteri. Baik di kalangan ilmuan, ataupun di kalangan ulama Islam. Sementara, topik tentangnya selalu di perbaharui oleh kabar tentang munculnya UFO, tentang kesaksian seseorang yang mengklaim melihat piring terbang, serta Crop circle yang sebagian kalangan meyakini sebaggai hasil karya UFO.
Kepastian tentang wujudnyapun masih simpang siur. Sebagian masih menyangsikan, dan menggap itu hanyalah  rekayasa yang di buat-buat, atau hanya kabar burung yang tatkala di cek kebenaran dan keberadaannya sudah lenyap. Dan memang tidak mudah di buktikan, karena mereka (jika ada) tidak bisa di undang untuk di temui sesuka manusia.

Adanya makhluk yang bisa bergerak cepat, bisa menghilang atau terbang keangkasa, tidak di tentang kemungkinannya oleh syariat. Lalu, jika memang UFO itu ada, makhluk dari jenis apakah itu? Wacana yang sudah berkembang, ada yang mengatakan UFO adalah makhluk luar angkasa, ada yang mengatakan mereka adalah arwah yang telah mati, satelit untuk memata-matai dan ada juga yang mengatakan bahwa mereka adalah makhluk dari kedalaman segita Bermuda.

Dalil-dalil syar’i dan kauni menyebutkan, bahwa jenis makhluk yang kita kenal adalah malaikat, jin dan manusia, hewan tumbuhan dan selebihnya adalah benda mati. Dari beberapa kemungkinan tersebut, Abdul Kariem Ubaidat dalam bukunya ‘Alamul Jin’ berpendapat bahwa yang paling dekat dengan jawaban adalah mereka dari golongan jin.
Kemampuan mereka untuk menembus langit adalah kemampuan yang dimiliki oleh jin, sebagaimana diindikasikan dalam Al Qur’an :
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالإنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ فَانْفُذُوا لا تَنْفُذُونَ إِلا بِسُلْطَانٍ
“Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.” (QS. Ar Rahman: 33)
Penyebutan jin di dahulukan, bisa jadi karena jin lebih dahulu mampu menembus langit daripada manusia. Sebagaimana pengakuan jin dalam firman Allah:
وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ
“Dan Sesungguhnya Kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya).” (QS. Al Jin: 9)
Dari keterangan dan kabar yang berkembang, mereka di gambarkan memilki kemampuan teknologi yang canggih. Berarti mereka adalah makhluk yang berakal, dan karenanya mereka terkena taklif (beban syariat). Sedangkan yang diberi taklif adalah manusia dan jin (Ats Tsaqalain) maka kemungkinan yang paling dekat, mereka adalah jin. Meskipun, masih ada satu spekulasi lagi, kemungkinan mereka juga disebut sebagai manusia di planet lain. Namun hal ini lebih jauh kemungkinannya bila di  kaji dari dalil-dali. [ar risalah hal. 36 Vol. 12 Jumadal Ukhro-Rajab 1432 H/ Juni 2011]

Sumber : http://genmuslim.blogspot.com/2011/11/misteri-piring-terbang-ufo.html

Read more: http://abuayaz.blogspot.com/2012/01/misteri-piring-terbang-ufo.html#ixzz2NQAdTMQU

Tambahan:

Allah Ta’ala berfirman: “Dan Dia telah menciptakan kuda; bagal; dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.” (Qs An-Nahl: 8).

Allah Ta’ala berfirman lagi: “Di antara tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya!”. (Qs Asy-Syuura: 29).

Allah Ta’ala berfirman lagi: “Dan kepada Allah sajalah bersujud segala makhluk melata yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) Para malaikat, sedangkan mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri”. (Qs An-Nahl: 49).

Dengan ayaat-ayaat seperti ini, maka sebagian ulama kaum Muslimin menyebutkan bahwa tidak ada salahnya ini menjadi isyarat adanya ‘alam-’alam lain di luar angkasa atau isyarat mengenai adanya Alien dan Ufo, akan tetapi sepatutnya kita tidak memastikan hal ini, karena ayaat-ayaat seperti ini bisa mengandung kemungkinan lebih dari satu pentakwilan.
Itulah Fatwa dari Syaikh Abdullah Al-Faqih Hadidzohullah Ta’ala.

Adapun pendapat bahwa makhluk-makhluk inilah yang menciptakan manusia dengan bentuk yang menyerupainya dengan perantara DNA dan bahwa dia merupakan kekuatan ajaib yang mengakibatkan adanya manusia, maka ini secara hakikatnya merupakan pendapat yang bathil (pendapat yang salah) yang menafi’kan aqidahnya.

 

KESIMPULAN!:


UFO!

Wahai para pembaca yang Budiman, meskipun Al-Qur’an telah mengisyaratkan di dalam beberapa ayaatnya tentang kemungkinan keberadaan makhluk-makhluk di luar angkasa, namun kita tidak boleh memastikan bahwa fenomena yang terjadi di planet bumi merupakan jejak keberadaan mereka, karena tidak ada seorangpun yang pernah melihat secara langsung wujud mereka seperti yang sering dilukiskan didalam film-film, demikian juga kita tidak boleh menafikan (menyangkal) secara langsung keberadaan mereka karena Al-Qur’an telah memberi isyarat yang memungkinkan keberadaan mereka.

Namun kita juga jangan terlalu sibuk memikirkan tentang adanya Alien and Ufo, karena alangkah baiknya apabila kita menyibukkan diri didalam beribadah dan bertaqorub kepada Allah Ta’ala (Mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala)!

Biarkanlah saja, sesungguhnya Alien dan Ufo pun termasuk makhluk Allah yang tercipta di ‘alam lain selain ‘alam manusia.
Yang penting kita sebagai kaum Muslimin wajib selalu mencari keridhoan Allah demi kehidupan kita di dunya dan di akhirat!

Wallahu’alam Bishowwab!

Sumber: websitedada0.wordpress.com