[Islam] Membela Sunnah Sahabat

(Tafsir Surat at-Taubah [9]: 100)

MEMBELA SUNNAH SAHABAT

Surat at-Taubah [9]: 100

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ ۝

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Alloh dan Allph menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.

Oleh: Al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron

MUQODDIMAH

Dakwah Salafiyah, pembelaan atas sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sunnah sahabat radhiyallahu ‘anhumalhamdulillah mendapatkan sambutan hangat dari kalangan penuntut ilmu. Akan tetapi ada saja kelompok yang tidak senang dengan perkembangan dakwah mubarokah ini, bahkan memfitnahnya. Mengapa mereka berbuat demikian?! Karena dakwah salafiyyah ini selalu mendengungkan dua sunnah, sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sunnah para sahabatnyaTidak mau larut dalam urusan politik, tidak mau ikut pesta demokrasi, senantiasa membahas tauhid, syirik, bid’ah, tidak sejalan dengan dakwah hizbi, haroki atau golongan lain, sering mengoreksi kesalahan mereka dan tokoh mereka, sehingga banyak yang menganggap dakwah salafiyyah ini perlu dibendung dengan berbagai alasan yang pada dasarnya hanya karena hawa nafsu belaka.

Penghasud dakwah yang suci ini pasti selalu ada. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallammengabarkan bahwa umatnya akan berpecah-belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, dan ini sudah terjadi. Satu golongan yang dikatakan oleh Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam -orang yang mengikuti aku pada hari ini dan sahabatku- dimusuhi oleh tujuh puluh dua golongan yang mengaku dirinya muslim. Siapakah pembela dakwah ini dan siapa musuhnya? Inilah yang akan kami sampaikan, semoga Alloh senantiasa memberi taufik dan hidayah dan menjadi pembelanya.

MAKNA  AYAT SECARA UMUM

Ibnu Qoyyim rahimahullahu berkata: “Mereka yang disebut dalam ayat ini adalah orang yang beruntung, karena Alloh telah meridhoi me­reka. Mereka adalah para sahabat Rosulullohshallallahu ‘alaihi wa sallam dan siapa saja yang mengikuti mereka sampai hari Kiamat, tidak hanya terbatas generasi yang pernah melihat mereka saja. Adapun Alloh mengkhususkan menyebut para tabi’in yang pernah melihat sahabat, agar mereka dikenal dan dibedakan dengan generasi sesudahnya. Dan ada yang berpendapat, para tabi ‘in secara mutlak pada abad itu saja. Jika tidak, maka semua orang yang mengikuti jalan mereka tergolong tabi’in (pengikutnya yang baik), termasuk orang yang diridhoi Alloh dan mereka ridho kepada-Nya. Selanjutnya Alloh menyebutkan ‘pengikut yang baik’, bukan hanya sekedar berminat ikut, atau hanya mengikuti sebagian dan meninggalkan sebagian yang lain, akan tetapi dalam arti mengikuti semua sunnahnya dengan baik.” (Bada’iuTafsir 2/372)[1]

MAKNA SAHABAT

Pada ayat di atas kita men­jumpai pembahasan tentang sahabat radhiyallahu ‘anhumKata sahabat (الصحابة)  diambil dari kata صحب artinya menemani dan menolong, seperti, صاحبك الله (semoga Alloh menolongmu). (Lisanul Arab 1/519)

Adapun makna sahabat se­cara istilah, Imam Bukhori rahimahullah berkata: “Sahabat yaitu orang Is­lam yang menemani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau yang pernah melihatnya.”(Shohih Bukhori 2I1222).

Al-Handz Ibnu Hajar al-Asqolani berkata: “Sahabat ialah orang yang menjumpai Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam dia itu mu’min dan meninggal dunia dalam keadaan Islam, sekalipun pernah murtad, menurut pendapat yang paling kuat. (Nuhbatul Fikar 1/21)

DALIL KEUTAMAAN SAHABAT

Keutamaan sahabat banyak disebutkan dalam al-Qur’an maupun hadits yang shohih, di antaranya;

  • Mereka diridhoi oleh Alloh Ta’ala sebagaimana keterangan ayat  di atas.
  • Alloh telah menerima taubat atas kesalahan mereka. (Lihat surat at-Taubah [9]: 117)
  • Pembela hukum Alloh dan Rosul-Nya.  (Lihat surat al-Hasr [59]: 8)
  • Mereka   berperang   membela agama Alloh. (Lihat surat al- Anfal [8]:72)
  • Ridho    meninggalkan    harta bendanya untuk hijrah fi sabilillah. (Lihat an-Nahl [16]: 41)
  • Mereka saling mencintai dan membantu  yang  membutuhkan. (Lihat al-Hasr [59]: 9)
  • Mereka membaiat Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam taat kepadanya, menjalankan perintahnya dan mening­galkan larangannya. (Lihat su­rat al-Fath [48]: 18)
  • Hidup pada kurun yang mulia dan sebaik-baik umat.

Dari ‘Imron bin Husain radhiyallahu ‘anhuNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian yang datang sesudah mereka lalu yang dating sesudah mereka. (HR. Bukhori 2457)

  • Mereka menjadi panutan un tuk umat berikurnya. Dari al-’Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Maka wajib bagimu mengikuti  sunnahku dan sunnah kholifah yang menyampaikan petunjuk dan mendapatkan petunjuk (HR. Ibnu Majah. Ahmad dari Abu Dawud, dishohihkan oleh al-Albani dalam Silsilah Hadits Shohihah 6/238)

Abdulloh Ibnu Mas’ud berkata: “Sesungguhnya Alloh melihat hati hamba-Nya, maka Dia menjumpai hati Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam paling baiknya hati, maka Alloh memilihnya dan mengutusnya dengan risalah. Lalu melihat hati hamba-Nya setelah hati Muham­mad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Dia menjumpai hati sahabatnya sebaik-baik hati, maka mereka dijadikan sebagai pembantunya, mereka berperang untuk membela agamanya. (Lihat Syarah ath-Thohawiyah 1/530. Atsar ini dihasankan Syaikh al-Albani )

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata: “Dan sebaik-baik umat sesudah Nabinya adalah Abu Bakar ash-Shiddiq, lalu Umar bin al-Khoththob, lalu Ustman bin Affan radhiyallahu ‘anhum.Kami mendahulukan mereka yang tiga ini sebagaimana para sahabat Rosulullohshallallahu ‘alaihi wa sallam men­dahulukan mereka, dan mereka pun tidak berselisih dalam hal ini. Setelah mereka bertiga ini adalah lima dewan musyawarah: Ali bin Abi Tholib, Tholhah, az-Zubair, Abdurrahman bin Auf dan Saad bin Abi Waqqos radhiyallahu ‘anhumMereka ini berhak menjadi kholifah, dan mereka semua imam. Pendirian kami inikembali kepada hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma. (Ushulus Sunnah Imam Ahmad: 60)

MAKNA CINTA KEPADA PARA SAHABAT

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata: “Termasuk bagian dari sunnah; berwala’ dan mencintai srhabat Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam, menyebut kebaikannya, memuliakannya, memintakan ampun dosanya, tidak rnembicarakan kesalahan dan perselisihan mereka, meyakini kemuliaan mereka dan meyakini bahwa mereka pendahulu dalam hal kebaikan sebagaimana dalam surat al-Hasyr [59]: 10 dan al-Fath [48]: 29 (LihatSyarah Lumatul I’tiqod: 150)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Kita wajib mencintai sahabat dengan hati dan memujinya, dikarenakan mereka menyampaikan yang ma’ruf dan yang ihsan (bagus lagi membagusi). Kita wajib memuliakan mereka dan memintakan ampun dosa mereka untuk merealisasikan fjrman-Nya dalam surat al-Hasr [59]: 10. Adapun kita dilarang menyebut kesalahan salah satu di antara mereka, karena kesalahan mereka itu sedikit, sedangkan kebaikan mereka banyak sekali, dan kesalahannya adalah sebab ijtihadnya yang diampuni oleh Alloh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

Janganlah kamu mencela sahabatku, seandainya salah satu di antara kamu berinfak semisal gunung Uhud berupa emas, tidak akan mencapai satu mud salah satu di antara meraka dan tidaklah pula separuhnya. (HR. Bukhori: 3397 bersumber dari Abu Sa’id al-Khudri radhiuallahu ‘anhu(Syarah Lumatul I’tiqod: 151)

WAJIB BERMANHAJ DENGAN MANHAJ PARA SAHABAT

Mengapa kita harus berpegang dengan manhaj dan pemahaman sahabat radhiuallahu ‘anhum dalam memahami ayat al-Qur’an atau as-Sun-nah!?

Dalil naqli:

Dari keterangan dalil di atas dapat dipahami:

  • Alloh menjadikan mereka sebagai teman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Alloh meridhoi mereka dan mereka pun ridho kepada-Nya.
  • Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita agar kembali kepada sunnahnya dan sunnah sahabatnya.
  • Mereka   sebaik-baik   generasi yang bertemu langsung dengan
    Rosululloh     shallallahu ‘alaihi wa sallam,     mendapatkan ilmu  dan bimbingannya dan menyertai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika di padang Arofah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta persaksian dari para sahabat atas wahyu yang disampaikan,  “Bukankah   akutelah menyampaikannya ?” Maka serentak   para   sahabat   menjawab:“Balaa ya Rosululloh (ya benar wahai Rosululloh).”
  • Alloh menjadikan mereka bersatu dan tidak berpecah-belah (Lihat surat Ali Imron [3]: 103)
  • Mereka yang paling  selamat lisan   dan   hatinya   dari   kebathilan   (Lihat   surat   al-Hasr [59]: 10)
  • Golongan yang selamat dari api neraka dan dijanjikan masuk surga  sebagaimana  diterangkan dalam hadits yang shohih dan ayat di atas.
  • Mereka tergolong orang yang kembali kepada jalan Alloh Ta’ala yang benar. (Lihat surat Luqman [31]:15)

Ibnu al-Qoyyim rahimahullah berkata: “Dan semua sahabat kembali ke­pada jalan Alloh, maka wajib bagi kita semua mengikuti jalan me­reka, baik dalam perkataan dan perbuatannya. Adapun mereka kembali kepada jalan Alloh Ta’ala, bacalah surat asy-Syuro[42]: 13 (I’lamul Muwaqi’in  4/113)

Adapun dalil secara akal:

  • Kita bisa mengetahui aqidah dan cara ibadah dan muamalah lewat   para   sahabat,   mereka telah lebih dahulu beriman, beramal dan berdakwah.
  • Mustahil   umat   Islam   akan bersatu tanpa kembali kepada pemahaman   sahabat.   Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahber­kata: “Termasuk Usul as-Sunnah yang pertama; Berpegang
    teguh dengan apa yang diilmui oleh para sahabat Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam(Usul as-Sunnah: 25)

Mungkin ada yang bertanya: “Mengapa tidak (cukup, -admin) berpegang teguh kepada al-Quran dan as-sunnah?” Ketahuilah perbedaan as-Salafus sholih dengan ahli bid’ah, hizbi dan harokibukan dari sisi dalil yang digunakan, mereka semua juga berdalil dengan al-Qur’an dan hadits. Mereka berselisih karena dalam hal pemahaman. Salafiyyun mengembalikan pema­haman dalil dengan pemahaman para sahabat dan pengikutnya, sedangkan Hizbiyyin dan Harokiyyun kembali kepada hawa nafsu dirinya atau tokohnya. Bagaimana umat Islam bisa bersatu?

Alloh mengancam orang yang tidak mau kembali kepada pema­haman Salafus sholih akan diporak-porandakan, berpecah-belah, jauh dari kebenaran dan diancam dengan neraka sebagaimana firman-Nya:

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيراً ۝

Dan barangsiapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalanyang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah di-kuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. an-Nisa’ [4]:115)

Al-Muhadits al-Albani rahimahullah berkata: “yang dimaksud ‘dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min’,dan yang pertama kali yang masuk di dalam keumuman ayat ini adalah para sahabat Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam(Fitnatut Takfir 1/3, Syaikh al-Albani)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Jika kamu ikut orang, ikutilah sahabat Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam, karena mereka adalah manusia yang pa­ling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, yang paling mendapatkan petunjuk, yang paling baik perangai dan akhlaqnya. Mereka dipilih oleh Alloh untuk menemani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kenalilah keutamaan mereka dan ikuti jejak mereka, karena mereka di atas jalan yang lurus. (Dikeluarkan Ibnu Abdil Bar Kitab Jami’ Bayanil Ilmi: 1810)

Imam Malik rahimahullah berkata: “Dan tidak akan baik perkara umat pada zaman sekarang ini melainkan kembali seperti pendahulunya (para sahabat). (Lihat Qosidah Ibnu Abi Dawud,1/62)

Abul Aliyah berkata: “Kalian wajib kembali kepada generasi pertama (para sahabat) sebelum terjadi perpecahah (al-Muntaqo an-Nafis min Talbis lblis: 33)

Abu Amr al-Auza’i berkata: “Kalian wajib kembali kepada atsar as-Salaf sekalipun banyak manusia menolakmu, dan jauhilah pendapat orang sekali pun menarik bahasanya. (al-Ajuri fisy-Syari’ah: 58)

Imam al-Auza’i berkata: “Tempuhlah jalan as-Salafus Sholih, karena hal itu akan mencukupi dirimu. (al-Lalakai fis-Sunnah, 1/54)

Muhammad bin Sirin berkata: “Ulama sunnah berkata: ‘Jika ada orang yang mengikuti ahli atsar, ketahuilah mereka di atas jalan yang haq.’” (al-Ibanah “An Syariatil-Firqotin Najiah, Ibnu Baththoh: 242)

Imam al-Barbahari berkata: “Kamu harus mengikuti atsar dan ahli atsar, kepada mereka hendaknya kamu bertanya dan bergaul.” (Syarhus Sunnah: 30)

Ijma’ ulama dan ahli hadits menerima riwayat dari sahabat tanpa komentar.

PEMBELA SUNNAH TETAP TEGAR

Sekalipun pembenci para sa­habat serta pelanjutnya bermunculan dengan berbagai usaha untuk memadamkannya, akan tetapi Alloh mempunyai kehendak untuk menghidupkannya.

يُرِيدُونَ لِيُطْفِؤُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ۝

Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Alloh dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Alloh tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. (QS. ash-Shof [61]: 8)

Dan Alloh berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.(QS. Yusuf [12]: 21)

Syaikh Salim bin al-’Ied al-Hilali berkata: “Ayat ini menunjukkan bahwa tetap ada sekelompok dari kaum muslimin yang menegakkan syariat Allah, tidaklah membahayakan mereka tipu daya musuh sehingga Allag menentukan perkara-Nya. (Limadza Ihhtartu Manhaj as-Salafi 22-23)

Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Senantiasa ode segolongan dari umatku ini dimenangkan  atas haq, tidaklah membahayakan diri mereka orang yang merendahkan me­reka sampai datang ketentuan Alloh (HR. Muslim: 3/1523)

SIAPA PEMBELA SUNNAH SAHABAT

Pembela as-Sunnah adalah Ahlus Sunnah wal-Jama’ah, Thoifah Manshuroh, Firqotun Najiah, Ahlul Atsar, as-Salafus Sholih; mereka adaiah pembela sunnah. Adapun sifat mereka:

1.  Menyenangi sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Imam al-Barbahariberkata: “Apabila engkau melihat orang yang menyenangi sahabat Abu Huroiroh, Anas bin Malik, dan Usaid bin Khudhoir radhiyallahu ‘anhum, sebutlah mereka itu ahli Sunnah insya Allah.(Syarhu Sunnah oleh Imam Barbahari: 119 Tahqiq ar-Rodadi)

2.Mencintai ahli hadits
Berkata   Abu   Hatim   kepada anaknya: “Jika kamu melihat orang yang mencintai  Imam Ahmad bin Hambal, ketahuilah dia itu pembela sunnah.” (Syarhus Sunnah: 107)

3.  Mendoakan baik kepada waliyul amri

Imam al-Barbahari berkata: “Jika kamu melihat orang yang mendoakan kebaikan kepada pemimpinnya, ketahuilah dia itu pembela sunnah insya Allah.”

4.  Membenci  bid’ah dan ahlinya

Jamal bin Farihan al-Haristi –hafidzahullah- ber­kata: “Jika kamu melihat orang mencintai Alus Sunnah dimana pun berada dan membenci ahli bid’ah dan penyembah hawa nafsu dimana pun berada dan dimana pun mereka pergi, ke-tahuilah dia itu ahli Sunnah (Lummud Durul Manstur minal-Qoulil Ma’stur. 18)

5.  Menjauhi bergaul dengan ahli bid’ah

Ibnu Mubarok rahimahullah berkata: “Janganlah kamu bergaul de­ngan ahli bid’ah.” (al-Ibanah:2/463)

6.  Tidak memperdebatkan syariat Islam

hnam Ahmad rahimahullah berkata: “Janganlah kamu bergaul de­ngan ahli kalam (yang suka mempermasalahkan ayat mutasyabihat) sekalipun mereka mengaku membela as-Sunnah, sesungguhnya pikiran mereka jelek.” (Al-Ibanah 2/540)

Adapun sifat yang lain banyak sekali, misalnya, ketika khotbah atau tatkala menulis selalu mendahulukan ayat al-Qur’an, as-Sun­nah dengan pemahaman Salafus sholih. Mengutamakan dakwah tauhid, memberantas kemusyrikan, bid’ah dan kemaksiatan lainnya, memperbaiki akhlak, demikian juga memerintahkan yang wajib dan yang sunnah.

BAHAYA ORANG YANG MENOLAK MANHAJ PARA  SAHABAT

Orang yang membenci dan menolak manhaj sahabat pasti berbahaya, di antaranya:

  • Mereka  dijauhkan  dari jalan yang haq. Lihat surat an-Nisa’ [4]: 115 di atas.
  • Hatinya tertutup, sulit menerima petunjuk.

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ ۝

Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allahtiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.(QS Shof [61]: 5)

  • Mereka pasti bermusuhan satu sama lain. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Se­sungguhnya kalian hidup akan menjumpai perselisihan yang banyak, maka kalian wajib berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rosyidin yangmendapat petunjuk.” (HR. Abu Dawud: 3851)
  • Enggan bertobat, karena tidak merasa bersalah. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

Sesungguhnya Allah menghalangi taubatnya setiap pelaku bid’ah. (Hadits shohih, lihat Silsilah Shohihah, Syaikh al-Al-bani: 1620) ‘

Bahaya yang lain, bila mereka membenci sahabat pasti memben­ci apa yang disampaikan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan meninggalkan aqidah dan ibadah yang sesuai dengan sunnah, sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok Sufi, dan pasti jatuh kepada perkara bid’ah, memakai dasar hawa nafsu, perasaan dan impian. Demikian juga cara dakwah mereka.Naudzu bi-llahi min dzalik.

HUKUM BAGI ORANG YANG MELECEHKAN SAHABAT

Imam Nawawi rahimahullahberkata: “Ketahuilah bahwa mencela saha­bat hukumnya haram, dan paling kejinya perkara yang haram, sama saja mereka mencela sahabat yang hidup pada zaman fitnah atau sebelumnya, karena perselisihan mereka dalam perkara ijtihadiah.

Al-Qodhi rahimahullahberkata: “Mencaci salah satu sahabat adalah perbuatan dosa besar, sedangkan menurut madzhab kami dan madzhab Jumhur; Pencaci wajib dihukum, akan tetapi tidak dibunuh. sedangkan menurut sebagian madzhab Imam Malik, mereka dibunuh. (Syarah Shohih Muslim, 16193)

Abu Musa Abdurrozzaq bin Musa berkata: “Di antara usul Ahlus Sunnah Salafiyyin menahan diri, tidak menyebut kejelekan para sahabat, tidak membicara-an perselisihan mereka, karena mereka tiang agama, pemimpinnya, penolong Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam, pembelanya, pembantunya dan pengikutnya.” (al-Is’ad fi Syarhi Lum’atiU’tiqod)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ber­kata: “Mencaci sahabat ada tiga macam;
(1) Mencaci yang mengakibatkan umumnya mereka kufur atau fasik, maka hukumnya kufur disebabkan mendustakan Alloh dan Rosul-Nya. Padahal kita disuruh memuliakan dan memintakan ampun kesalahan mereka..
(2) Mencelanya dengan melaknat atau menjelek-jelekan. Apakah pelaku pencelaan ini dihukumi kufur? Dalam hal ini ada dua pendapat dari kalangan ahli ilmu (ada yang mengkafirkan dan ada yang tidak mengkafirkan); Adapun bagi mereka yang tidak mengkafirkannya, pelaknatnya dipukul atau dipenjara sehingga mati, atau disuruh mencabut perkataanya.
(3) Mereka dicela, akan tetapi tidak dicela agamanya. Misal sahabat dikatakan penakut, bakhil, pelaku pencelaan ini tidak dihukumi kafir, akan tetapi wajib dihukum agar dia takut dan berhati-hati. (Syarah Lum’atil  I’tiqod: 152)

SIAPA ORANG YANG MENGHINA SAHABAT

Penghina dan pembenci para sahabat bukan hanya dari kalangan orang kafir musyrik seperti orang Yahudi dan Nasrani, akan tetapi dari firqoh kaum muslimin yang tersesat sebagai mana diterangkan oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa umatnya akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan yang selamat hanya satu, sedangkan lainnya musuhnya. Musuh ahli sunnah adalah ahli bid’ah, pengikut hawa nafsu, sedangkan tokohnya ada lima: Khowarij, Syiah, Qodariah, Murji’ah, dan Jahmiyah. Untuk lebih jelasnya baca kitab Mauqifu Ahli Sunnah wal Jamaah min-Ahlil Ahwa’i wal-Bida’ 1/137-153. Oleh Dr. Ibrohim Amir ar-Ruhaili.

Syaikh Abu Usamah al-Hilali berkata: “Adapun Mu’tazilah bagaimana mereka mengaku sepakat dengan sahabat, padahal mereka mencela para pemuka sahabat yang paling mulia, mereka menolak kejujurannya, bahkan menggolongkan mereka orang yang tersesat sebagaimana perkataan Wasil bin Atho’: “Andaikan Ali, Tholhah dan Zubair bersaksi atas seikat sayur tidaklah aku menerima persaksian mereka.” (Limadza Ikhtartu Man-haj Salafi: 96) Adapun Khowarij sungguh mereka telah keluar dari Islam, dan menyimpang dari jama’ah kaum muslimin, di antara madzhab mereka; Mengkafirkan Ali bin Abi Tholib dan dua anaknya, Ibnu Abbas, Ustman, Tholhah, Aisyah, Mu’awiyah, me­reka menghina sahabat bahkan mengkafirkannya. Adapun kelompok Sufi, mereka menghina pewaris Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan melecehkan para penukil al-Qur’an dan sunnah, mereka menilai sahabat adalah orang yang mati. Pembesar Sufi berkata: “Apakah kamu ambil ilmu dari orang yang mati? sedangkan kami mengambil ilmu dari yang hidup yang tidak akan mati.” Mereka berkata: “Hatiku bercerita dari Tuhanku.” Adapun Syi’ah sungguh dia menuduh para sahabatradhiyallahu ‘anhumtelah murtad setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia, hanya sedikit yang beriman. Khumaini sebagai cermin mereka pada zaman sekarang, mencela dan menghina dua sahabat besar, yaitu Abu Dakar dan Umar radhiyallahu ‘anhumaLihat kitabKasful Asror halaman 131. Adapun Murji’ah berkeyakinan bahwa iman orang munafiq seperti imannya pendahulu umat dari kalangan sahabat Muhajirin dan Anshor (Limadza IkhtartuManhaj Salaf: 96-98)

Sedangkan ciri lain orang yang menghina sahabat dari ka­langan ahli bid’ah ini sebagai berikut:

  • Mereka suka berpecah-belah. Baca surat Ali Imron [3]: 105, al-An^am [6]: 159.
  • Mengikuti hawa nafsu, Baca surat al-Jaastiyah [45]: 23.
  • Selalu membahas ayat mutasyabihat.

Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Apabila kamu melihat orang yang mencari-cari ayat mutasyabihat, mereka itulah yang disebut oleh Allah di dalam su­rat al-Imron: 7 maka berhati-hati dan waspadalah kepada mereka.” (Fathul Bari 8/209)

  • Menolak hadits,bila bertentang-an dengan al-Qur’an. Padahal  Rosululloh   shallallahu ‘alaihi wa sallam ber­sabda (yang artinya): “Ingatlah sesungguhnya apa yang diharamkan oleh Rosululloh hallallahu ‘alaihi wa sallam hukumnya   seperti   yang   diharamkan oleh Allah.”(HR. Ibnu Majah, dishohihkan al-Albani Shohih Sunan Ibnu Majah 1/7)
  • Membenci ahli hadits dan ahli atsar.

Ahmad bin Sannan al-Qothon berkata: “Tidak ada di dunia ini ahli bid’ah melainkan pasti membenci ahli hadits.” (Diriwayatkan oleh Ismail ash-Shobuni, Aqidatus Salaf Ash-habul Hadits: 132)

  • Mengolok-olok   ahli   sunnah atau ahli hadits.

Abu Ustman al-Shobuni rahimahullah berkata: “Tanda pelaku bid’ah jelas sekali, yang paling nampak, sangat memusuhi pembawa dan penyampai hadits Nabi, mereka menghinanya dan memberi nama dan gelar yang buruk seperti hasyawiyah (orang-orang pinggiran yang mengumpulkan hal-hal yang tidak berguna), jahalah (bodoh), dhohiriyah(tekstualis/fundamentalis), musyabihah (menyerupakan Alloh dengan makhluk-Nya). Mereka beranggapan bahwa orang yang berpegang kepada hadits Nabi adalah orang yang jauh dari pengetahuan, sesungguhnya ilmu menurut mereka adalah bisikan setan yang ada pada pikiran mereka yang rusak.(Aqidatu Ashhabil Hadits: 102)

  • Membantah dalil naqli.
    Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):   ‘Orang  yang  palingdibenci Alloh adalah orang yangbanyak dan sering membantah.”(HR. Bukhori 2/867)
  • Menolak pemahaman as-Salaf.
    Padahal mestinya umat Islam harus kembali kepada pema­haman as-Salafus Sholih sebagaimana dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal pada usul sunnah yang pertama seperti
    yang dijelaskan di atas.
  • Mengkafirkan kelompok yang tidak sepakat dengan mereka tanpa dalil.

Sebagaimana firqoh Khowarij dan Mu’tazilah yang  mengkafirkan sahabat radhiyallahu ‘anhumdan sahabat lainnya.

MENYIKAPI PENGHINA  SAHABAT

  • Wajib menasehati mereka de­ngan al-Qur’an dan as-Sunnah shohihah dengan pemahaman salafus sholih.  Ingatkan me­reka bahwa melecehkan saha­bat boleh jadi kafir. Lihat surat at-Taubah [9]: 65-66.
  • Menjauhi bergaul dengan me­reka. Lihat surat an-Nisa’[4]: 140   dan   keterangan   ulama
    sunnah seperti di atas.
  • Mentahdzirnya    sampai    dia berhenti.    Hendaknya    menjauhkan mereka dari umat agar
    bahayanya tidak menyebar ke­pada yang lain, tentu bila ada faidahnya.  Lihat  firman-Nya
    pada surat an-Nur [24]: 63
  • Hendaknya tidak berdebat de­ngan mereka[2]. Imam Ahmad rahimahullah     berkata:     “Tinggalkan berdebat dan bergaul dengan pengikut hawa nafsu.” (UsulSunnah, 30 Imam Ahmad)
  • Hendaknya tidak mendengarkan pembicaraannya dan tidak membaca kitabnya[3]. Mubasyir bin Ismail al-Halabi berkata: “Ada orang yang berkata kepa­da Imam al-Auza’i: ‘Ada orang yang berkata: ‘Saya berteman dengan ahli sunnah dan ahli
    bid’ah.’ Imam al-Auza’i berkata: ‘Orang itu ingin menyamakan antara yang haq dan yang bathil.’” (al-Ibanah 2/456)

Al-Fudhail bin ‘lyadh berkata: “Janganlah kamu berteman dengan ahli bid’ah, saya kha-watir kamu dilaknat.” (al-Lali-kai: 397 sanadnya shohih)

Akhirnya semoga Alloh Ta’ala mengembalikan kita semua ke­pada pemahaman salafus sholih yang diridhoi-Nya dan diberi kesabaran ketika membela dan mengamalkannya.

Sumber: AL FURQON         edisi 11 tahun ke-6, hal. 7-12, 35


[1] Keterangan Syaihul Islam Ibnul Qoyyim rahimahullah ini membantah tuduhan Lathif Awaluddin, MA atas tulisannya “Salafiyyah, Manhaj atau Madzhab?” Dia berkata: “Kata salaf pada dasarnya bermakna kurun (al-qururi) suatu periode sejarah yang tidak mungkin terulang lagi.” (Risalah No: 9 Th. 44 Desember 2006) dan membantah buku ‘Membantah Kedok Salafiyyun Sempalan’ oleh Tim Studi Kelompok Sunniyyah dan diterbitkan oleh Pustaka MIM. Pada halaman 7-8 mereka berkata: “Manhaj Ahlus Sunnah terkadang pula disebut atau dinamakan dengan istilah Salafiyyah, walaupun sebenarnya nama Salafiyyah tidak mendapatkan legitimasi resmi sebagai nama lain dari manhaj Ahlus Sunnah. Salafiyyahhanyalah merupakan kata atau istilah bantu untuk memastikan bahwa as-Salaf ash-Sholih (tiga generasi pertama) berjalan di atas manhaj tersebut.”

[2] Kecuali apabila terpenuhi syarat-syarat diperbolehkan debat dengan mereka; seperti, pendebatnya adalah orang yang benar-benar mengetahui ilmu syar’i, mengetahui kelemahan-kelemahan hujah mereka dan tidaklah bertujuan kecuali untuk membela dan menampakan kebenaran dengan hujah yang kuat dan menyingkap segala syubhat mereka. (red.)

[3] Kecuali untuk mengetahui hujah-hujah mereka untuk dibantah dan dijelaskan kepada umat. Hal ini bagi seorang yang telah mapan ilmu syar’i yang dimilikinya. (red.)

Sumber: maktabahabiyahya.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s