Akhirnya Aku Mengerti Hakikat Tauhid..

Kami tidak pernah berdebat, menyalahkan atau mempermalukan beliau. Kami tetap hormat, dan pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan berkesan layaknya konfirmasi, “Apakah ini benar”, “Mengapa seperti ini”, dan semacamnya, kemudian menilai jawaban yang pendeta tersebut berikan. Dan jika kami tahu sebenarnya beliau tidak dapat menjawab pertanyaan kami, dan tampak jawabannya dipaksakan, tidak logis (seperti tentang ramalan tiga hari tiga malam), maka kami hanya tersenyum dan tidak memperpanjang pembahasan hal tersebut. Saat itu, pendeta tersebut menganjurkan agar kami membaca buku karangan seorang Pastor yang berjudul Gelar-Gelar Yesus. Namun, aku malah mendapati, si pengarang justru mengatakan bahwa di Alkitab tidak ada yang secara langsung menyebutkan bahwa Yesus itu Tuhan dan dia tidak pernah menyatakan diri sebagai Tuhan. Sehingga anjuran ini justru menjadi semakin menambah pertanyaanku dan memperbesar keraguanku akan iman Kristen.

Namaku Erlina, aku ingin berbagi cerita kepada saudariku muslimah, bukan untuk mengajarkan tentang fiqih atau hadits atau hal lainnya yang mungkin ukhti muslimah telah jauh lebih dulu mengetahuinya daripada aku sendiri.
Karena di masa lalu, aku beragama Kristen…

Sejak kecil aku beserta kedua adikku dididik secara kristen oleh kedua orangtuaku, bahkan aku telah dibaptis ketika masih berumur 3 bulan dan saat berusia 18 tahun aku telah menjalani sidhi, yaitu pengakuan setelah seseorang dewasa tentang kepercayaan akan iman kristen di depan jemaat gereja. Aku juga selalu membaca Alkitab dan membaca buku renungan –semacam buku kumpulan khotbah– bersama keluargaku di malam hari. Seluruh keluargaku beragama Kristen dan termasuk yang cukup taat dan aktif. Bahkan dari keluarga besar ayah, seluruhnya beragama Kristen dan sangat aktif di gereja sehingga menjadi pemuka dan pengurus gereja. Sedang dari keluarga ibu, nenekku dulunya beragama Islam, namun kemudian beralih menjadi Katholik.

Sejak kecil aku adalah anak yang sangat aktif dalam kegiatan keagamaan. Tentu saja kegiatan keagamaan yang aku anut saat itu beserta keluarga besarku. Kecintaanku pada agama Kristen demikian kuat mengakar dan terus bertambah kuat seiring pertumbuhanku menjadi wanita dewasa. Sedari kecil aku sangat rajin ikut Sekolah Minggu, bahkan hampir tidak pernah absen. Aku selalu ingin mendengarkan cerita agama Kristen atau cerita dari Alkitab di Sekolah Minggu. Setiap pelajaran Sekolah Minggu kucatat dalam sebuah buku khusus. Cerita-cerita tersebut kuhafal sampai detail, sehingga setiap perayaan Paskah dan Natal aku selalu menjadi juara lomba cerdas tangkas Sekolah Minggu. Pernah suatu ketika, karena aku sering sekali menang, seorang juri memberikan tes tersendiri. Hal ini untuk memastikan bahwa aku layak mendapatkan juara pertama, apalagi saat itu aku masih lebih muda dari peserta dan juara lainnya. Ternyata aku bisa menjawab pertanyaan juri tersebut. Akhirnya aku tetap mendapatkan hadiah, namun hadiah khusus di luar juara satu sampai tiga. Kebijakan ini untuk memberikan kesempatan pada peserta lain untuk menjadi pemenang.

Ketika aku menginjak usia SMP dan SMA, aku tetap aktif dalam kegiatan persekutuan remaja dan pemuda di sekolah. Aku juga aktif di tingkat yang lebih besar yaitu kegiatan persekutuan antar siswa Kristen dari sekolah-sekolah se-kota Magelang, juga persekutuan remaja di gereja. Bahkan aku juga ditunjuk menjadi ketua persekutuan remaja di gereja. Setiap minggu aku disibukkan dengan kegiatan persekutuan, mempersiapkan acara, topik, pembicara, membuat undangan dan menyebar undangan. Aku tidak pernah bosan mengundang rekan-rekan untuk hadir. Walaupun aku tahu ada di antara mereka yang malas hadir, aku tetap memberikan undangan kepada mereka. Betapa semangatnya aku saat itu…

Setelah lulus SMA, aku meneruskan kuliah di FKG UGM. Dan seperti sebelum-sebelumnya, aku kembali aktif di kegiatan keagamaan (Kristen). Kali ini aku mengikuti kegiatan persekutuan mahasiswa di FKG dan di tingkat UGM. Aku sangat senang dan menikmati kegiatanku tersebut saat itu. Bermacam-macam aktifitas, perayaan Natal, Paskah, panitia lomba vokal grup lagu gerejawi dan lainnya aku ikuti. Aku sering mengajak teman-teman-teman satu kos untuk menyanyi bersama lagu-lagu gerejawi di kos, berdiskusi pemahaman kitab dan lainnya.

Ternyata keaktifanku dalam kegiatan keagamaan ini semakin masuk ke dalam ketika aku diajak bergabung dengan pelayanan “Para Navigator”. Pesertanya sebagian besar mahasiswa. Di sini kami belajar banyak hal tentang kekristenan, dibimbing oleh pembimbing rohani dalam satu kelompok, mengadakan diskusi pemahaman Alkitab setiap minggu dengan menggunakan buku panduan seperti kurikulum yang bertingkat dari dasar ke tingkat tinggi. Di sini kami juga diajarkan dan diminta untuk menghafal ayat-ayat Alkitab –dengan diberikan panduan berupa kartu yang berisi ayat untuk dihafalkan-, dan setiap minggu harus bertambah ayat yang kami hafal. Akhirnya aku dapat menyelesaikan paket kurikulum dan diminta membimbing anak rohani. Metode pelayanan ini biasa dikenal dengan metode sel, belajar berkelompok, kemudian berkembang dengan masing-masing anggota yang akan memiliki anak-anak lain untuk dibimbing, sehingga orang-orang yang terlibat di dalamnya akan berkembang dan bertambah banyak. Dalam pelayanan ini, terkadang kami pun diajarkan dan dianjurkan untuk berdakwah mengajak orang lain mengenal dan mengikuti ajaran Kristen.

Entah mengapa, setelah aku masuk stase (tingkatan) klinik, mulai ada beberapa teman (muslim) yang mendekati dan ingin memperkenalkan Islam kepadaku. Reaksiku? Jelas marah dan kutolak mentah-mentah. Pernah juga aku dipinjami Al-Qur’an dan diminta untuk membacanya oleh seorang teman. Sungguh aku sangat marah terhadapnya sampai-sampai aku tak ingin berbicara dengannya.

Sampai akhirnya aku bertemu dengan dia –sebut saja A– yang alhamdulillah kini telah menjadi suamiku.

Kalau teman-teman lain ingin memperkenalkan Islam dengan cara langsung dengan Al-Qur’an dan hal-hal lainnya yang jelas-jelas berbau Islam, maka A mengenalkan Islam dari sisi yang beraroma Kristen. Dan aku sangat antusias saat itu.

Apalagi ia menyatakan bahwa jika Kristen lebih benar dari Islam, maka dia akan mengikuti agama Kristen. Kesempatan emas! Pikirku.

A juga banyak bertanya tentang Bible, bahkan ia katakan telah tamat membaca Alkitab Perjanjian Baru sebanyak tiga kali! Aku pikir, orang ini benar-benar tertarik akan agama Kristen. Aku saja belum pernah membaca dari awal hingga akhir kitab tersebut secara berurutan. Aku semakin bersemangat saat itu. Banyak yang dia ketahui tentang Alkitab Kristen dan tentang Kristen. Ternyata sejak kecil ia bersekolah di sekolah Katholik dan mempelajari agama Katholik serta sejarahnya, dan ketika ia kuliah di UGM, ia juga terkadang berkunjung ke toko buku Kristen untuk membaca.

Namun, yang terjadi selanjutnya ternyata di luar dugaanku. A memang banyak tahu tentang agamaku, namun ia juga memiliki pengetahuan tentang Islam. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang diajukan olehnya dan berkaitan dengan agamaku, yang terkadang pertanyaan itu begitu mudah, namun aku sangat kesulitan menjawabnya. Diskusi-diskusi yang kami lakukan membuat kami menjadi dekat. Aku pun telah lulus kuliah dan bekerja. Begitu pula A, hanya saja dia bekerja di Jakarta. Namun, kami masih terus melanjutkan diskusi tentang agama Kristen yang telah kami lakukan sebelumnya. Ya… masih berlanjut seperti itu, pengenalan tentang agama Islam yang dilakukan dengan cara tidak langsung.

Dari diskusi-diskusi itulah ia terkadang memasukkan sentilan Islam secara tidak langsung dan tidak aku sadari (karena pertanyaan dan hal-hal yang didiskusikan sebenarnya telah jelas jawabannya di Islam). Banyak bentrok di antara kami dalam diskusi tersebut. Kadang bahkan membuat aku marah, menangis, jengkel. Namun diskusi itu terus berlanjut. Masih ada rasa penasaran, jengkel dan marah yang berbaur menjadi satu. Namun… banyak sekali pertanyaan darinya yang tidak bisa aku jawab.

Akhirnya A mengusulkan agar meminta pendeta yang ahli untuk diajak diskusi bersama. Wah!! Betapa senangnya aku mendengar sarannya itu. Orang ini benar-benar bersemangat belajar Kristen. Aku sangat berharap akhirnya nanti dia bisa beragama Kristen. Rasanya bahagia jika aku berhasil membuat ia mengikuti iman Kristen.

Dengan sebab tersebut, aku mencari dan menghubungi pendeta yang terkenal, senior dan sangat berkualitas di Jogja. Sebut saja pendeta X. Aku berharap pendeta X dapat membantuku ‘memberi pelajaran’ tentang Kristen kepada A. Keluargaku pun ikut bersemangat dan sangat mendukung rencanaku ini. Saat itu, aku bersyukur bapak pendeta ini mau dan bersedia membantu rencanaku. Akhirnya, kami melakukan diskusi bertiga.

Keadaannya saat itu, bukanlah sebagaimana seseorang yang ingin saling berdebat antar agama. Tidak. Kondisi saat itu, baik A maupun aku sama-sama sebagai orang yang belajar dan mencari kebenaran.

Walaupun tidak ada pernyataan sebagaimana yang A lakukan bahwa jika Islam lebih benar aku akan mengikuti agamanya.
Mulailah kami berdiskusi setiap pekan di hari Sabtu. Beberapa pertanyaan yang A ajukan antara lain adalah:

Kapan dan bagaimana cara Yesus berpuasa? Mengapa orang Kristen tidak berpuasa?
Tentang penghapusan hukum Taurat (Yesus menolak membasuh tangan sebelum masuk rumah).
Benarkah kisah yang menceritakan Yesus berdoa dengan bersujud?

Dan bagaimana orang Kristen berdoa saat ini? Dahulu, orang Yahudi termasuk Yesus dikhitan. Mengapa orang Kristen sekarang tidak? Pendeta menjawab, orang Kristen ada yang berkhitan tapi bukan untuk mengikuti hukum Tuhan (Taurat), tetapi untuk alasan kesehatan.

Mengapa orang Kristen tidak mengenal najis? Padahal hal najis di Taurat lebih berat daripada hukum Islam. Pendeta menjawab, dalam Kristen hal itu tidak perlu karena di dalam tubuh kita juga ada najis.

Apakah surga itu bertingkat-tingkat menurut Kristen?
Pendeta menjawab, “Tidak, dalam Kristen surga tidak bertingkat-tingkat.”
Lalu kami bertanya, “Mengapa dalam injil dikatakan ada surga rendah dan surga tinggi?”

Terdapat ramalan dalam Alkitab tentang kedatangan anak manusia ‘Ia akan berada di perut bumi tiga hari tiga malam’ seperti kejadian nabi Yunus di dalam perut ikan. Siapakah dia?

Pendeta menjawab, “Jelas ramalan untuk Yesus setelah kematian di kayu salib dan dikubur di gua.”
Akhirnya kami bertiga sama-sama menghitung. Dan berkali-kali, hasil perhitungan itu adalah dua hari dua malam atau maksimal adalah tiga hari dua malam dengan konsekuensi memasukkan hari minggu sebagai satu hari penuh, padahal minggu pagi –sebelum matahari terbit- , kubur Yesus telah kosong. Karena perhitungan tersebut tidak cocok dengan ramalan tiga hari tiga malam, pertanyaan tersebut ditunda untuk didiskusikan pekan berikutnya.

Saat kami datang pekan berikutnya, pendeta sudah memiliki jawaban, yaitu perhitungan hari orang Yahudi berbeda dengan kita.

Waktu itu kami tercengang, heran namun akhirnya tersenyum mengerti bahwa sebenarnya pertanyaan ini tidak dapat dijawab oleh sang pendeta. Padahal kejadian nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam gua selama tiga hari tiga malam mestinya lebih bisa menjawab ramalan tersebut.

Ah, saudariku… sebenarnya masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang kami diskusikan saat itu. Kiranya ini cukup untuk menggambarkan diskusi yang terjadi saat itu.

Pertanyaan-pertanyaan kami bukanlah pertanyaan yang berat yang berkaitan dengan akidah. Bukan tentang trinitas ataupun ketuhanan Yesus. Namun, itupun banyak yang tidak terjawab. Dan dalam diskusi ini, A tidak pernah mendebat dengan dalil-dalil Islam, Al-Qur’an dan hadits. Sehingga memang terkesan bahwa kami berdua sedang berguru kepada pendeta tersebut.

Kami tidak pernah berdebat, menyalahkan atau mempermalukan beliau. Kami tetap hormat, dan pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan berkesan layaknya konfirmasi, “Apakah ini benar”, “Mengapa seperti ini”, dan semacamnya, kemudian menilai jawaban yang pendeta tersebut berikan. Dan jika kami tahu sebenarnya beliau tidak dapat menjawab pertanyaan kami, dan tampak jawabannya dipaksakan, tidak logis (seperti tentang ramalan tiga hari tiga malam), maka kami hanya tersenyum dan tidak memperpanjang pembahasan hal tersebut. Saat itu, pendeta tersebut menganjurkan agar kami membaca buku karangan seorang Pastor yang berjudul Gelar-Gelar Yesus. Namun, aku malah mendapati, si pengarang justru mengatakan bahwa di Alkitab tidak ada yang secara langsung menyebutkan bahwa Yesus itu Tuhan dan dia tidak pernah menyatakan diri sebagai Tuhan. Sehingga anjuran ini justru menjadi semakin menambah pertanyaanku dan memperbesar keraguanku akan iman Kristen.

Bersambung …

Sumber: http://muslimah.or.id/

Advertisements

Yuk kita bergerak, perbaiki keadaan

Gonjang-ganjing Indonesia dan dunia pada umumnya sedikit banyak sering membuat kita gerah dan terkadang pilu dan geram akan mereka2 yang “seharusnya” bisa berbuat lebih banyak, tapi kok sepertinya terlihat “membiarkan”.

Sebagai warga negara yang baik, sebagai warga dunia yang baik dan khususnya sebagai bagian dari umat muslim yang baik, mari kita sikapi kehidupan kita ini dengan tindakan2 yang lebih bermakna, seperti yang diusulkan oleh salah satu ustadz kita, Ust. Yusuf Mansur dibawah ini.

Apa yang harus kita perbuat jika kenyataannya memang menyedihkan begitu?

Pertama, kita harus belajar dan mendalami Islam kepada guru atau ustadz yang benar. Bukan kepada guru yang belepotan lumpur politik, bukan kepada guru yang mengajak ngebom sana-ngebom sini, bukan kepada guru yang baru saja bertemu langsung bertanya pada kita, “Sudah berapa orang yang bisa kamu rekrut?”

Belajarlah kepada guru atau ustadz yang ketika pertama kali bertemu menanyakan sudahkah kita mengerjakan sholat tahajud, puasa Senin-Kamis, Insya Allah, ustadz yang demikian akan menuntun kita ke jalan yang benar.

Kedua, tingkatkanlah wawasan dan ilmu pengetahuan dengan banyak-banyak membaca buku. Tinggalkanlah atau sedikitkan waktumu untuk menonton teve hiburan jelek karena semua itu hanyalah pekerjaan membuang-buang waktu.

Hadirilah kajian-kajian agama dan keilmuan lainnya yang bisa meningkatkan ilmu dan wawasan kita dan tinggalkanlah majelis-majelis partai politik karena yang ini sama sekali tidak ada gunanya sekarang.

Ketiga, buatlah jaringan sosial dengan orang-orang alim, mereka yang saling nasehat-menasehati dalam Islam, dan saling menganjurkan untuk berbuat kebaikan.

Keempat, hidupkanlah Islam dan jangan sekali-kali hidup dengan menjual Islam. Janganlah jadi pedagang umat. Allah SWT Maha Tahu apa yang tengah kita lakukan. Banyak orang ber-KTP Islam sekarang ini yang menjual ayat-ayat Allah SWT dengan harga amat murah, ditukar dengan kelezatan kehidupan dunia yang fana. Sehingga tanpa risih sedikit pun mereka tega mempermainkan perintah Allah SWT dan mengatakan sesuatu tanpa ilmu yang haq. Islam sudah ketinggalan zaman-lah, jilbab hanya sekadar persoalan secarik kain-lah, dan sebagainya.

Kelima, jangan pernah merasa takut sedikit pun jika Anda sudah melakukan ini semua dan banyak orang menganggap kita aneh, bahkan menyatakan jika kita sendirian. Teruslah berjalan di atas rel Islam yang lurus, walau mungkin itu berarti kita sendirian. Ingat, Allah SWT itu pun sendirian, dan kesendirian Allah SWT itulah kekuatan-Nya. Jalan para Nabi adalah jalan sunyi yang penuh dengan onak dan duri. Semoga Allah SWT selalu memudahkan segala urusan kita semua dan membimbing hati kita agar selalu berada dalam jalan-Nya yang lurus.

The Story of the Visit of the Devil

Nature of Satan and his Method of Seduction:
The Story of the Visit of the Devil

Surely, Satan is an enemy to you, so treat him as an enemy. He only invites his “hizb” (followers) that they may become the dwellers of the Blazing Fire.
Qur’an 35:6

The following is a Hadith from Ibn Abbas (RA), as related by Mu’dh Ibn Jabal and contained in Muhyiddin ‘Arabi’s book, ‘Shajarat al-Kawn’, (The Tree of Being). This is by information from another Hadith by Anas Ibn Malik (RA). Insh’Allah, this humble retelling will help us to do what Allah says ‘do’, and stop where Allah says ‘stop’.

One day, a congregation was gathered at the home of one of the Ansar around the Prophet (SAW). (According to Anas, it was Abu Ayyub). In the middle of a wonderful discourse, an ugly voice from the outside was heard saying, “O Messenger of Allah would you permit me to enter? I have business with you!”

All looked at the Prophet (SAW), who said to the ones present, “Do you recognize the owner of this voice?” The companions answered, “Allah and His Messenger know best” The Prophet (SAW) said, “It is Shaytan, the Accursed.”

On hearing that, Umar (RAW), who was present, pulling his sword, asked, “O Messenger of Allah, permit me to go and cut off his head. Let me smash his skull and free the people from his trouble”

The Prophet (SAW) replied, “No, Umar, don’t you know that you cannot kill him? He has permission to exist until Doomsday.”

Then he added, “Open the door and admit him, as he did not come on his own, but on Allah’s orders”. Otherwise, he would not come here. Listen to what he says, and try to understand.”

The Rawi (RA), one of the companions, relates the tale. “They opened the door and he appeared in front of us as an old man cross-eyed (or blind in one eye) and scant of beard, with only six or seven long hairs from his chin. He had a very big head, his crossed eyes close to the top of his head, high on his forehead, with big thick hanging lips, like those of a water buffalo. He saluted the Prophet and the Companions, to which the Prophet (SAW) responded, ‘O Accursed, the salaam and salutations belong to Allah Most High. ‘Then he said, ‘I heard you are here on business. What is it?

“Shaytan said, ‘I did not wish to come here, I was forced to. An angel came to me from your Lord, who honours whom He wishes, and said, “Allah Most High orders you to Muhammad, but you will go to him in humility and abasement, and be submissive and tractable. You will tell him how you seduce and mislead humankind. You are going to answer all his questions truthfully, without a single lie.” And Allah said that if I lied to you, He would turn me into ashes and blow me away in the wind, and my enemies would laugh at me. I come with such orders, O Muhammad.’

“Then the Prophet (SAW) asked the Devil, ‘Tell me, who in the creation do you hate most?’

The Devil answered, ‘You O Muhammad! (“And all the prophets.”) There is no one in the whole creation that I hate more than your or another like you.’

“The Messenger of Allah (SAW) confirmed that the Devil was his (and all the prophets’) greatest foe. He asked, whom else do you detest, besides me?”

“Shaytan said,
‘The young ones who have given up their pleasures and themselves for Allah’s sake;
the men of knowledge who act upon their knowledge and who decline all that is doubtful; the ones who are clean, so clean that they wash thrice that which they wish to cleanse.
The patient poor, who neither ask from others the things they need, not complaining.
The thankful rich, who give alms lawfully.
the knowledgeable who act on what they know;
the readers of the Qur’an who pattern themselves on it;
those who call to prayer on time;
advisors and reformers;
abstainers from unlawful food and sex and
those who place their trust in Allah;
benefactors of the poor;
the devout busy in Allah’s service.

“Then, the Prophet (SAW) asked, ‘What happens to you, O Accursed One, when my people do their prayers?’

“I shake and tremble as if stricken with malaria, because I see your people raised in blessing and power each time they prostrate.”

Q: “‘What happens to you, O Accursed, when my people fast?”
A: ‘I have my hands and feet tied until they break their fast..’

Q: ‘What happens to you when they all meet on the Pilgrimage at the house of their Lord?’
A: ‘I lose my wits, I go mad.”

Q: ‘What happens to you when they recite the Holy Qur’an?’
A: ‘I melt, like lead turning to hot liquid in the fire.’

Q: ‘And when they pay alms?’
A: I am torn to pieces, as if the generous donors took a saw and sawed me into four pieces, because there are four beatitudes which the donor receives: the blessing of abundance, love and respect from Allah’s creatures, a shield from Hell fires, and relief from distress and troubles.’

Q: “Then the Messenger of Allah (SAW) asked the Devil what he thought of his beloved Companions.
A: About Abu Bakr (RA) he said, ‘I hate him. Even before Islam, he refused to obey, nay! Even to hear me. How can he now listen to me?’
About Umar Ibn Khattab he said, ‘I run away whenever I see him.
And about Ali Ibn Abu Talib he said, ‘Oh, if I could just be safe from him, if he would just let me be, I would let him be. But he will not leave me alone!’

“Having heard the answers of the accursed Shaytan, the Prophet (SAW) thanked Allah said, ‘Praised be to Allah, who has blessed my people with such felicity and cursed you with such negativity until that appointed time.

“When the Devil heard that, he said, ‘Alas for you, what felicity for your people? How can you feel there is safety for them as long as I exist? I enter their very veins, their very flesh, and they cannot even suspect, let along see or feel me. I swear by Allah Who has given me time until Doomsday, that I will seduce them all, the intelligent and the simpleminded, the learned as well as the ignorant, the devout as well as the sinner. None will be safe from me, except the true servants of Allah.’

Q: ‘Who are the true servants of Allah, according to you?’
A: ‘You know well, O Muhammad, that whoever loves his money and his property, Allah does not count among His servants. Whenever I see someone who does not say “mine” and me, who does not love either money or flattery, I know he is truly a servant of Allah and I run away from him. As long as one loves money, property, flattery, he obeys me, he is my servant. I need many servants and I have servants. I am not alone. I have 70,000 children, each of them with his assigned duties. Each of my 70,000 children has 70,000 shaytans serving under him, all assigned to different posts. Many are with the young, and the older women, and with the theologians and preachers and shaykhs. There are almost no difference of opinion between your young children. And some of the devout and some of the pious get along very well with my people! My devils lead the imagination of the sincerity of their devotions. Soon, they fight with each other and they don’t even know what is happening to them. Then, I whisper to them, “Disbelieve”, but when they disbelieve, I say,

“I am free of you. Surely I fear Allah, the Lord of the Worlds.”
(Sûrah al-Hashir, Ayat 16.)

“Then, the accursed Devil told how he profited from habits of man, which he liked. About lying, he said, ‘Do you know, O Muhammad, that lying is from me and that I am the first liar: Whoever lies is my best friend; whoever swears to the truth of Allah and lied to Adam and Eve.

I swore to them both, “Surely I am a sincere advisor to you.” (Sûrah AL A`raf, 7:21).

I also detest loving families. If they think of rejecting each other once, the marriage bond in Allah’s view is dissolved. The wife will be unlawful to the husband. When they sleep together, they will be adulterers. If they have a child, he will be a bastard. I love that.’

‘O Muhammad, let me tell you about my friends who abandon prayers or delay them. When it is time for prayer, I make them imagine that there is still time, that they are busy. They should enjoy what they are doing, they can always pray later! I hope they will die before doing their next prayer. If I don’t succeed again, I enter into their prayers. I tell them, “Look to the right, look to the left! Think of the past, plan your future!” And when they do, I caress their cheeks and kiss their foreheads and take the peace from their hearts. You know, O Muhammad, that the prayers of those whose attention is outside of them or who are imaginings things which do not belong in the presence of Allah are also rejected and thrown in their faces. And, if I am not successful in that, I order them to do their prayers fast and they look like hens picking at grain. If I still don’t succeed, I follow them to the congregational prayers and put bridles on their heads. I pull, and lift their heads from the prostration before the Imam, and I push their heads down before the Imam touches his head to the ground and I am overjoyed to remember that Allah will turn those unruly heads into donkeys heads on the Last Day of Judgment. If I am still not successful, I try at least to make them crack their fingers while they are making prayers. Then, they will be among those who make my tasbih, instead of Allah’s ta’bih. Or at least I will blow into their noses and make them yawn and, if they open their mouths, a little devil will enter into them through their mouths and increase their love and ambition of this world. The one who loves and is ambitious for this world becomes my soldiers; he obeys me and does as he is ordered.

‘O Muhammad, how can you hope and be serene about your people’s salvation and felicity? I have a trap at every corner for them. I go to the poor and tell them, “What has Allah done for you? Why do you pray to Him? Prayer is for those to whom He has given in abundance.” Then, I go the ones who are sick and tell them to stop praying, and remind them that even Allah said,

“There is no blame on the sick” (Surah Nur, 24:61)

I hope that they will die having abandoned their prayers, so that Allah will meet them with anger in the Hereafter.

‘O Muhammad, if I have told a single lie, may scorpions bite me, and ask from Allah that He turn me into ashes. O Muhammad, do not be sure of your people. I have already converted a sixth of them, who have left their religion.’

Q: ‘O Accursed One, with whom do you most like to spend your time?’
A: ‘The usurer.

Q: ‘And your best friend?’
A: ‘The adulterer.’

Q: With whom do you share your bed?’
A: ‘The drunkard.’

Q: ‘Who are your guests?’
A: ‘The thieves.’

Q: ‘Who are your representatives?’
A: The magicians and soothsayers.’

Q: ‘What pleases you most?’
A: ‘Divorce.’

Q: ‘Whom do you love most?’
A: ‘Those who abandon their Friday prayers.’

The ten friends of Shaytan are, tyrants and oppressors; the arrogant; servile scholars who hide the truth for the benefit of tyrants; dishonest tradesmen; drinkers of alcohol; dealers in fraud; slanderers; those who stir up trouble among friends.

Q: “What breaks your heart, o Accursed One?
A: ‘The determination and the firm footsteps of those who march against the enemies of Allah for Allah’s sake.’

Q: ‘What gives you pain?’
A: ‘The repentance of the penitent.’

Q: ‘What makes you grimace?’
A: ‘The alms given in secret.’

Q: ‘What makes your eyes blind?’
A: ‘The tahajjud prayer in the middle of the night.’

Q: ‘What makes you bow your head?’
A: ‘Prayer done in congregation.’

‘Q: ‘O Shaytan, according to you, who are the happiest among people?’
A: ‘The ones who purposefully abandon their prayers.’

Q: ‘And the best among people?’
A: ‘The miser.’

Q: ‘What prevents you from doing your job?’
A: ‘The gathering of men of knowledge and their discourses.’

Q: ‘How do you eat your food?’
A: ‘With my left hand and the tips of my fingers.’

Q: ‘When the sun is hot, where do you seek shade?’
A: ‘Under people’s dirty fingernails.’

“‘I asked Allah to give me a house, and He gave me the public baths.
I asked Allah to give me a temple, and he gave me the marketplace as my temple.
I asked Allah to give me a book. He gave me the book of poetry as my book.
I asked for a call to prayer, and He gave me the dancing music.
I asked for someone to share my bed, and He gave me the drunkard.
I asked Allah for helpers. Allah gave me those who believe in free will.
I asked Allah to give me brothers and sisters, and Allah gave me the squanders who spend their money on evil things. Allah said,

“Surely the squanders are the Devil’s brethren” (Surah Bani Isr’ail, Ayat 27).

Then I asked Allah to be able to see the children of Adam while they are unable to see me, and He accorded that to me. I wished that the very veins of the children of Adam be my routes, and it was given to me. So, I flow in their veins as I wish and enter their flesh. All these were given to me, and I am proud of what I have received. And, let me add, O Muhammad, that there are more with me than there are with you.’

“‘Then the Prophet (SAW) said, ‘If you had not proven what you said with the verses of Allah’s Book, it would have been hard for me to confirm what you say.’

“‘The Devil continued, ‘Do you know, O Muhammad, that I have a son whose name is Atam? He urinates in the ear of the people who go to sleep without performing their night prayers. His urine puts them to sleep, otherwise, no one could have gone to bed without finishing their prayers.

Then, I have a son whose name is Mutaqadi. His duty is to publicize the prayers, the devotions, the good deeds done in secret a hundred fold. When deeds are publicized and receive credit and praise from the creatures of Allah, Allah takes away 99 of the promised one hundred rewards.

Then, I have a son whose name is Kuhayl. His duty is to put kohl on the eyes of those in the presence of wise men or preachers. The ones whose eyes he has touched start falling asleep. They are, thus, prevented from hearing the words of Allah or receiving any benefits from them.

” ‘The Devil talked about women. He said, ‘Whenever a woman leaves her seat, a Devil sits in her place. On the lap of every woman sits a shaytan who makes her desirable to whoever looks at her. Then, he orders the woman to open and show her arms, her legs, and her breast and with his claws, tears her veil of shame and decency.’

” ‘Then the Devil started to complain. He said, ‘O Muhammad, inspite of all this, I have no strength to take away the faith of the faithful. I only take away their faith when they throw it away. If I were able, there would be no one on the face of this world who could say: LA ILAHA ILLALLAH, MUHAMMAD RASULULLAH, “There is no Creator by Allah, Muhammad is His Messenger.” I would not leave a single one to pray or fast. All I can do is to give the children of Adam imaginations, illusions and delusions, make the ugly appear beautiful, the wrong, right; and the bad, good. Neither do you have the power to give faith. You are only a proof of the Truth, because I know that, if you were given the power to give true faith, you would not leave a single non-believer on the face of this world. The fortunate one who is a believer is fortunate in his mother’s womb, and the rebellious sinner is a rebel in his mother’s womb. As you are the guide of the fortunate, I am only the cause of sin of the ones who are destined to sin. Allah is He who renders one fortunate and another rebellious.’ Then he recited from Surah Hud,

“And if thy Lord had pleased He would have made people a single nation, and they cease not to differ, except those upon whom thy Lord has mercy, and for this did He create them. And the word of them altogether” (Surah Hud, Ayat 118-119.)

He recited from Surah Ahzab, Ayat 38: ‘ “And the command of Allah is a decree that is made absolute.’ ”

Then, the Mercy upon the Universe told the Devil, ‘O Father of All Bitterness, I wonder if it is at all possible for you to repent and return to your Lord. I promise I would intercede for you.’

“The Accursed One answered, ‘O Messenger of Allah, it is Allah’s justice. The ink on the pen which wrote the judgment is dry. What will happen until Doomsday. The One who made the master of all prophets, the speaker for the inhabitants of Paradise, the One who chose you to be the beloved amongst His creation, chose me to be the master of sinners and the speaker of the inhabitants of Hell. He is Allah. O Muhammad, this which I have told you is my last word to you, and I have told nothing but the truth.’ ”

All praise is due to Allah, Lord of the worlds. Allah says in Qur’an:

Surely Allah and His angels send blessings on the Prophet: O ye that believe: Send ye blessing and salute him with all respect. Surah-the coalition,33:53

May Allah’s blessing be upon Muhammad, the Beloved of Allah, and upon his household and Companions and upon those who love him. Amin.

Source:

http://www.gawaher.com