QA: Imam Sholat (Muqim atau Safar)

Assalamu’alaikum wr. wb.

Ustaz yang dirahmati Allah, Insya Allah tentang sholat jama qashar. Saya mohon tinjauan dari sisi syarriahnya. Begini, saya sering dikunjungi teman dari luar kota yang jaraknya memenuhi syarat untuk sholat jama dan qashar (4 jam naik bis cepat antar kota). Dalam kondisi ini, manakah yangbenar:

1. Musafir menjadi imam sholat jama’ah. Dia sholat 2 rakaat (jama’ qashar), kemudian ketika dia salam, makmum yang mukim berdiri meneruskan sholatnya yang 4 rokaat

2. Orang yang mukim menjadi imam, musafir menjadi makmum. Musafir jadinya hanya menjama’ sholat saja.

Sekian, syukron jazakallohu khairan.

Jawaban

Assalamu a’alikum warahmatullahi wabarakatuh,

Keduanya bisa saja benar, tergantung dari keadaan dan tata cara shalat yang dilakukan. Ada kalanya yang jadi imam sebaiknya orang yang safar, namun ada kalanya shalat itu dilakukan di sebuah masjid yang sudah ada imam tetapnya. Sehingga para musafir mau tidak mau menjadi makmum.

Secara syar’i, baik menjadi imam atau menjadi makmum, keduanya dimungkinkan bagi seorang musafir. Tinggal diperjelas bagaimana aturan shalatnya saja.

1. Bila Musafir Menjadi Imam

Musafir sebaiknya menjadiimam sholat jama’ah, sedangkan orang yang mukim menjadi makmum. Yaitu bila musafir itu ingin mengqashar shalatnya dari 4 rakaat menjadi 2 rakaat (jama qashar).

Caranya adalah imam yang musafir itu shalat 2 rakat, kemudian ketika dia salam, makmum yang mukim berdiri meneruskan sholatnya yang 4 rakaat. Dengan demikian, kepentingan kedua belah pihak bisa dilaksanakan tanpa menguranginya sedikit pun.

Sebab bila yang jadi imam orang yang mukim, dia harus shalat 4 rakaat, sedangkan yang musafir tidak mungkin shalat hanya 2 rakaat saja. Pilihannya adalah yang musafir-lah yang jadi imam, atau pilihan kedua, musafir menjadi makmum tapi harus shalat 4 rakaat, tidak mengqashar..

2. Bila Imamnya Harus Orang yang Muqim

Namun dalam banyak kesempatan, seringkali imam shalat di suatu tempat, terutama di masjid, sudah ditetapkan imamnya, sehingga para musafir tidak punya kesempatan untuk menjadi imam di masjid itu.

Bagaimana bila hal seperti itu terjadi? Apa yang harus dilakukan oleh para musafir?

Menurut jumhur ulama, bila memang demikian, maka para musafir tetap shalat di belakang imam yang mukim dengan menyempurnakan shalat ruba’iyahnya. Sehingga para musafir tidak mengqashar shalatnya, jika shalat bersama imam yang shalat 4 rakaat. Mereka hanya bisa menjama’ saja.

Imam Ibnu Qudamah Al-Hanbali merajihkan pendapat ini dalam kitabnya, Al-Mughni. Dan hal ini lah yang difatwakan oleh Ibnu Umar ra, Ibnu Abbas ra, Ats-Tsauri, Abu Tsaur, As-Syafi’i dan umumnya para tabi’in. Mereka mendasarkan hal ini kepadaatsarberikut:

Dari Ibnu Abbas ra. bahwa kepada beliau ditanyakan, “Bagaimana hukumnya musafir yang shalat 2 rakaat kalau sendiri tapi shalat 4 rakat kalau ikut imam (yang bukan musafir)?” Ibnu Abbas ra menjawab, “Itu adalah Sunnah (Rasulullah SAW).” (HR Ahmad)

Nafi’ mengatakan bahwa adalah Ibnu Umar bila shalat (dalam keadaan safat) bersma imam (yang tidak safar), beliau shalat 4 rakaat bersama imam. Namun bila beliau shalat sendirian (dalam keadaan safar) beliau shalat 2 rakaat.” (HR Muslim)

Wallahu a’lam bishshawab, Wassalamu a’alikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Sumber : Era Muslim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s