Bangga Menjadi Ibu Rumah Tangga

Setelah kita memahami besarnya peran dan tanggung jawab seorang ibu sebagai seorang pendidik, melihat realita yang ada sekarang sepertinya keadaannya menyedihkan! Tidak semua memang, tapi banyak dari para ibu yang mereka sibuk bekerja dan tidak memperhatikan bagaimana pendidikan anak mereka. Tidak memperhatikan bagaimana aqidah mereka, apakah terkotori dengan syirik atau tidak. Bagaimana ibadah mereka, apakah sholat mereka telah benar atau tidak, atau bahkan malah tidak mengerjakannya… Bagaimana mungkin pekerjaan menancapkan tauhid di dada-dada generasi muslim bisa dibandingkan dengan gaji jutaan rupiah di perusahaan bonafit? Sungguh! sangat jauh perbandingannya.

Anehnya lagi, banyak ibu-ibu yang sebenarnya tinggal di rumah namun tidak
juga mereka memperhatikan pendidikan anaknya, bagaimana kepribadian anak
mereka dibentuk. Penulis sempat sebentar tinggal di daerah yang sebagian
besar ibu-ibu nya menetap di rumah tapi sangat acuh dengan pendidikan
anak-anak mereka. Membesarkan anak seolah hanya sekedar memberinya makan.
Sedih!

Penulis: Ummu Ayyub
Muroja’ah: Ust Abu Ahmad

Hebat rasanya ketika mendengar Ada seorang wanita lulusan sebuah universitas
ternama telah bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan gaji jutaan rupiah
per bulan. Belum lagi perusahaan sering menugaskan wanita tersebut terbang
ke luar negri untuk menyelesaikan urusan perusahaan. Tergambar seolah
kesuksesan telah dia raih. Benar seperti itukah?

Kebanyakan orang akan beranggapan demikian. Sesuatu dikatakan sukses lebih
dinilai dari segi materi sehingga jika Ada sesuatu yang tidak memberi nilai
materi akan dianggap remeh. Cara pandang yang demikian membuat banyak dari
wanita muslimah bergeser dari fitrohnya. Berpandangan bahwa sekarang sudah
saatnya wanita tidak hanya tinggal di rumah menjadi ibu, tapi sekarang
saatnya wanita `menunjukkan eksistensi diri’ di luar. Menggambarkan
seolah-olah tinggal di rumah menjadi seorang ibu adalah hal yang rendah.

Kita bisa dapati ketika seorang ibu rumah tangga ditanya teman lama
Sekarang kerja dimana?” rasanya terasa berat untuk menjawab, berusaha
mengalihkan pembicaraan atau menjawab dengan suara lirih sambil tertunduk
Saya adalah ibu rumah tangga”. Rasanya malu! Apalagi jika teman lama yang
menanyakan itu “sukses” berkarir di sebuah perusahaan besar. Atau Kita bisa
dapati ketika Ada seorang muslimah lulusan universitas ternama dengan
prestasi bagus atau bahkan berpredikat cumlaude hendak berkhidmat di rumah
menjadi seorang istri Dan ibu bagi anak-anak, dia harus berhadapan dengan
nasehat” dari bapak tercintanya: “Putriku! Kamu kan sudah sarjana, cumlaude
lagi! Sayang kalau cuma di rumah saja ngurus suami Dan anak.” Padahal, putri
tercintanya hendak berkhidmat dengan sesuatu yang mulia, yaitu sesuatu yang
memang menjadi tanggung jawabnya. Disana IA ingin mencari surga.

Ibu Sebagai Seorang Pendidik

Syaikh Muhammad bin Shalih al `Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa
perbaikan masyarakat bisa dilakukan dengan dua cara: Pertama, perbaikan
secara lahiriah, yaitu perbaikan yang berlangsung di pasar, masjid, Dan
berbagai urusan lahiriah lainnya. Hal ini banyak didominasi kaum lelaki,
karena merekalah yang sering nampak Dan keluar rumah. Kedua, perbaikan
masyarakat di balik layar, yaitu perbaikan yang dilakukan di dalam rumah.
Sebagian besar peran ini diserahkan pada kaum wanita sebab wanita merupakan
pengurus rumah. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah subhanahu WA ta’ala
yang artinya:

“Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian Dan janganlah kalian berhias Dan
bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu Dan dirikanlah
sholat, tunaikanlah zakat Dan taatilah Allah Dan Rasul-Nya. Sesungguhnya
Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa kalian, hai Ahlul Bait Dan
membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)

Pertumbuhan generasi suatu bangsa adalah pertama kali berada di buaian para
ibu. Ini berarti seorang ibu telah mengambil jatah yang besar dalam
pembentukan pribadi sebuah generasi. Ini adalah tugas yang besar! Mengajari
mereka kalimat Laa Ilaaha Illallah, menancapkan tauhid ke dada-dada mereka,
menanamkan kecintaan pada Al Quran dan As Sunah sebagai pedoman hidup,
kecintaan pada ilmu, kecintaan pada Al Haq, mengajari mereka bagaimana
beribadah pada Allah yang telah menciptakan mereka, mengajari mereka
akhlak-akhlak mulia, mengajari mereka bagaimana menjadi pemberani tapi tidak
sombong, mengajari mereka untuk bersyukur, mengajari bersabar, mengajari
mereka arti disiplin, tanggung jawab, mengajari mereka rasa empati,
menghargai orang lain, memaafkan, dan masih banyak lagi. Termasuk di
dalamnya hal yang menurut banyak orang dianggap sebagai sesuatu yang kecil
dan remeh, seperti mengajarkan pada anak adab ke kamar mandi. Bukan hanya
sekedar supaya anak tau bahwa masuk kamar mandi itu dengan kaki kiri, tapi
bagaimana supaya hal semacam itu bisa menjadi kebiasaan yang lekat padanya.
Butuh ketelatenan dan kesabaran untuk membiasakannya.

Sebuah Tanggung Jawab

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat
yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya: “Peliharalah dirimu dan
keluargamu!” di atas menggunakan Fi’il Amr (kata kerja perintah) yang
menunjukkan bahwa hukumnya wajib. Oleh karena itu semua kaum muslimin yang
mempunyai keluarga wajib menyelamatkan diri dan keluarga dari bahaya api
neraka.

Tentang Surat At Tahrim ayat ke-6 ini, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu `anhu
berkata, “Ajarkan kebaikan kepada dirimu dan keluargamu.” (Diriwayatkan oleh
Al Hakim dalam Mustadrak-nya (IV/494), dan ia mengatakan hadist ini shahih
berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim, sekalipun keduanya tidak
mengeluarkannya)

Muqatil mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah, setiap muslim harus
mendidik diri dan keluarganya dengan cara memerintahkan mereka untuk
mengerjakan kebaikan dan melarang mereka dari perbuatan maksiat.

Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa beberapa ulama mengatakan bahwa Allah
subhanahu wa ta’ala akan meminta pertanggungjawaban setiap orang tua tentang
anaknya pada hari kiamat sebelum si anak sendiri meminta pertanggungjawaban
orang tuanya. Sebagaimana seorang ayah itu mempunyai hak atas anaknya, maka
anak pun mempunyai hak atas ayahnya. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman, “Kami wajibkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua
orang tuanya.” (QS. Al Ankabut: 7), maka disamping itu Allah juga berfirman,
“Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang berbahan bakar
manusia dan batu.” (QS. At Tahrim: 6)

Ibnu Qoyyim selanjutnya menjelaskan bahwa barang siapa yang mengabaikan
pendidikan anaknya dalam hal-hal yang bermanfaat baginya, lalu ia membiarkan
begitu saja, berarti telah melakukan kesalahan besar. Mayoritas penyebab
kerusakan anak adalah akibat orang tua yang acuh tak acuh terhadap anak
mereka, tidak mau mengajarkan kewajiban dan sunnah agama. Mereka
menyia-nyiakan anak ketika masih kecil sehingga mereka tidak bisa mengambil
keuntungan dari anak mereka ketika dewasa, sang anak pun tidak bisa menjadi
anak yang bermanfaat bagi ayahnya.

Adapun dalil yang lain diantaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala
yang artinya:

“dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang dekat.” (QS asy Syu’ara’: 214)

Abdullah bin Umar radhiyallahu `anhuma mengatakan bahwa Rasulullah
shalallahu `alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Kaum lelaki adalah
pemimpin bagi keluarganya di rumah, dia bertanggung jawab atas keluarganya.
Wanita pun pemimpin yang mengurusi rumah suami dan anak-anaknya. Dia pun
bertanggung jawab atas diri mereka. Budak seorang pria pun jadi pemimpin
mengurusi harta tuannya, dia pun bertanggung jawab atas kepengurusannya.
Kalian semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.”
(HR. Bukhari 2/91)

Dari keterangan di atas, nampak jelas bahwa setiap insan yang ada hubungan
keluarga dan kerabat hendaknya saling bekerja sama, saling menasehati dan
turut mendidik keluarga. Utamanya orang tua kepada anak, karena mereka
sangat membutuhkan bimbingannya. Orang tua hendaknya memelihara fitrah anak
agar tidak kena noda syirik dan dosa-dosa lainnya. Ini adalah tanggung jawab
yang besar yang kita akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.

Siapa Menanam, Dia akan Menuai Benih

Bagaimana hati seorang ibu melihat anak-anaknya tumbuh? Ketika tabungan anak
kita yang usia 5 tahun mulai menumpuk, “Mau untuk apa nak, tabungannya?”
Mata rasanya haru ketika seketika anak menjawab “Mau buat beli CD murotal,
Mi!” padahal anak-anak lain kebanyakan akan menjawab “Mau buat beli PS!”
Atau ketika ditanya tentang cita-cita, “Adek pengen jadi ulama!” Haru!
mendengar jawaban ini dari seorang anak tatkala ana-anak seusianya bermimpi
pengen jadi Superman!”

Jiwa seperti ini bagaimana membentuknya? Butuh seorang pendidik yang ulet
dan telaten. Bersungguh-sungguh, dengan tekad yang kuat. Seorang yang sabar
untuk setiap hari menempa dengan dibekali ilmu yang kuat. Penuh dengan
tawakal dan bergantung pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu… jika seperti
ini, bisakah kita begitu saja menitipkannya pada pembantu atau membiarkan
anak tumbuh begitu saja?? Kita sama-sama tau lingkungan kita bagaimana (TV,
media, masyarakat,…) Siapa lagi kalau bukan kita, wahai para ibu -atau calon
ibu-?

Setelah kita memahami besarnya peran dan tanggung jawab seorang ibu sebagai
seorang pendidik, melihat realita yang ada sekarang sepertinya keadaannya
menyedihkan! Tidak semua memang, tapi banyak dari para ibu yang mereka sibuk
bekerja dan tidak memperhatikan bagaimana pendidikan anak mereka. Tidak
memperhatikan bagaimana aqidah mereka, apakah terkotori dengan syirik atau
tidak. Bagaimana ibadah mereka, apakah sholat mereka telah benar atau tidak,
atau bahkan malah tidak mengerjakannya… Bagaimana mungkin pekerjaan
menancapkan tauhid di dada-dada generasi muslim bisa dibandingkan dengan
gaji jutaan rupiah di perusahaan bonafit? Sungguh! sangat jauh
perbandingannya.

Anehnya lagi, banyak ibu-ibu yang sebenarnya tinggal di rumah namun tidak
juga mereka memperhatikan pendidikan anaknya, bagaimana kepribadian anak
mereka dibentuk. Penulis sempat sebentar tinggal di daerah yang sebagian
besar ibu-ibu nya menetap di rumah tapi sangat acuh dengan pendidikan
anak-anak mereka. Membesarkan anak seolah hanya sekedar memberinya makan.
Sedih!

Padahal anak adalah investasi bagi orang tua di dunia dan akhirat! Setiap
upaya yang kita lakukan demi mendidiknya dengan ikhlas adalah suatu
kebajikan. Setiap kebajikan akan mendapat balasan pahala dari Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Tidak inginkah hari kita terisi dengannya? Atau memang
yang kita inginkan adalah kesuksesan karir anak kita, meraih hidup yang
berkecukupan, cukup untuk membeli rumah mewah, cukup untuk membeli mobil
mentereng, cukup untuk membayar 10 pembantu, mempunyai keluarga yang bahagia
berakhir pekan di villa. Tanpa memperhatikan bagaimana aqidah, bagaimana
ibadah, asal tidak bertengkar dan bisa senyum dan tertawa ria di rumah,
disebutlah itu dengan bahagia.

Ketika usia senja, mata mulai rabun, tulang mulai rapuh, atau bahkan tubuh
ini hanya mampu berbaring dan tak bisa bangkit dari ranjang untuk sekedar
berjalan. Siapa yang mau mengurus kita kalau kita tidak pernah mendidik
anak-anak kita? Bukankah mereka sedang sibuk dengan karir mereka yang dulu
pernah kita banggakan, atau mungkin sedang asik dengan istri dan anak-anak
mereka?

Ketika malaikat maut telah datang, ketika jasad telah dimasukkan ke kubur,
ketika diri sangat membutuhkan doa padahal pada hari itu diri ini sudah
tidak mampu berbuat banyak karena pintu amal telah ditutup, siapakah yang
mendoakan kita kalau kita tidak pernah mengajari anak-anak kita?

Lalu…

Masihkah kita mengatakan jabatan ibu rumah tangga dengan kata `cuma’? dengan
tertunduk dan suara lirih karena malu?

Wallahu a’lam

Maroji’:

1. Dapatkan Hak-Hakmu, Wahai Muslimah oleh Ummu Salamah as Salafiyyah. Judul
asli: Al-Intishaar li Huquuqil Mu’minaat
2. Mendidik Anak bersama Nabi oleh Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid. Judul
Asli: Manhaj At-Tarbiyyah An-Nabawiyyah lit-Thifl
3. Majalah Al Furqon Edisi: 8 Tahun V/Rabi’ul Awwal 1427/April 2006

ps : Idealisme normatif atau realistiskah ditengah kejamnya fitnah dunia ini
bagai buah simalakama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s