Hati-hati Terhadap Generasi Keledai

ARDATH makin popular di kalangan remaja. Bukan merk rokok, tapi akronim ‘Aku rela ditiduri asal tidak hamil.’

Setiap orang – terlebih remajanya – memang mesti gaul. Sebab kita adalah ‘mahluk gaul’. Dalam istilah sosiologi, Aristoteles menyebutnya zoon politicon. Meskipun secara bahasa, kamu-kamu juga pasti ada yang tahu kalau zoon politicon itu sebetulnya lebih tepat diartikan sebagai ‘hewan gaul’ daripada ‘mahluk gaul’.

Apa pun istilahnya, yang penting kita jangan seperti hewan dalam bergaul. Iya kan? Sebab, menurut Plato manusia memiliki jiwa rohaniah yang tidak dimiliki hewan (Gerungan, 1996 : 5). Jiwa rohaniah berfungsi untuk menemukan nilai-nilai kebenaran dalam kehidupan ini. Sedangkan Imam Al Ghazali mengatakan, pengetahuan manusia tentang kebenaran tergantung sepenuhnya pada sesuatu yang berada di luar akal manusia. Yaitu sesuatu yang lebih tinggi daripada akal. Dalilnya adalah firman Allah, “Kebenaran itu datang dari Tuhanmu (Allah SWT), maka janganiah kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. Al Baqarah : 147)

Hati-hati Bergaul

Intinya, kita kudu hati-hati dalam bergaul. Tidak setiap gaul itu baik. Jangan lantaran takut disebut kuper atau nggak gaul, kita lalu kebablasan. Sebab, ada saja yang terjerumus ke hal-hal negatif bahkan menyesatkan gara-gara salah gaul. Entah karena faktor ikut-ikutan (imitasi), kena pengaruh (sugesti), keliru mengidentifikasi, atau karena faktor lainnya.

Oleh karena itu, ungkap L.Kohlberg, alasan moral (moral reasoning) harus senantiasa melandasi setiap sikap dan perilaku. Lewat penalaran moral, termasuk di dalamnya pertimbangan nilai-nilai agama, seseorang akan berpikir positif untuk menentukan pilihan yang terbaik.

Berdasarkan nilai-nilai yang terkandung di dalam suatu pergaulan, maka secara garis besar ada gaul yang islami, ada juga gaul yang tidak islami. Gaul yang tidak islami itu bisa berbau jahiliah, musyrik, ateis, dan ‘bau-bau’ lainnya – emangnya enak jadi orang ‘bau’, iya nggak!

Celakanya lagi, meniru-niru gaul yang tidak islami, kita pun bisa digolongkan seperti mereka. Kan hadis Nabi SAW menyatakan, “Jika seseorang meniru-niru suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” Bisa gawat, dong.

Ngetren

Tren, atau ngetren telah menjadi bagian dari gaul yang sarat imitasi, terutama peniruan nilai-nilai budaya Barat. Mengikuti tren tertentu dianggap gengsi, sehingga tren jadi ukuran dalarn bergaul, berikut segala perilaku dan penampilan yang menyertainya. Mulai dari gaya berbusana (fesyen), gaya bersenang-senang (fun), hingga perilaku makah-minurn (food). Untuk mudahnya, sebut saja Tiga F’.

Repotnya, karena dicekoki tren, seringkali membuat orang lepas dari etika, moral, bahkan lepas dari nilai-nilai agama. Tren dalam fesyen, misalnya, kalau nggak ketat, ya transparan atau buka-bukaan mengekspose aurat (terutama aurat perempuan), padahal memperlihatkan aurat dalam agama kita dianggap sudah ketinggalan zaman karena yang begitu itu adalah ‘gaya hidup primitif, kalau tidak hendak dikatakan, maaf, tradisi bina plus…tang. Jelas kan, mana yang sejatinya kuno mana yang modern.

“….Sesungguhnya perempuan itu, apabila sudah baligh, tidak patut menampakkan sesuatu dari dirinya melainkan ‘ini’ dan ‘ini’,” kata Nabi kita sembari menunjuk muka dan teiapak tangannya.. (HR. Abu Daud)

Masih banyak hadis lain, tapi itu saja dulu lah.

Ada pula tren cowok meniru busana cewek, cewek meniru busana laki-laki. Katanya, unisex. Inipun jelas-jelas kebli-nger. Kata Nabi, “Laknat Allah kepada iaki-laki yang meniru perempuan, dan perempuan yang meniru laki-laki.” (HR. Bukhari)

Kita beralih ke soal fun. Paling banyak ditandai pacaran, pergi ke (atau mangkal di) tempat-tempat hiburan. Pacaran sekarang cenderung mengarah pada zina (ngeseks), sedangkan di tempat-tempat hiburan seringkali terjadi ngedrink, nge-drug, dan ngegambling. Jadi sudah sangat jelas penyimpangannya dari moral atau nilai-nilai agama.

Allah memperingatkan, “Kalian telah terlena oleh melimpahnya kesenangan, sehingga tibalah saatnya kalian di tepi jurang.” (QS At Takatsur : 1-2)

“Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir dan mereka memandang hina orang-orang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat…” (QS Al Baqarah : 212)

Pacaran

Dari pacaran yang dikira bagian dari ‘gaji!’, timbullah gejala sosial di kalangan rernaja. Nggak peduli di kota ataupun di desa. Orang yang tidak senang pacaran dianggap tidak laku, tidak gaul, atau kuper. Walah, walaaah…. Ada-ada saja, ya !

Salah satu gejala negatifnya ialah adanya berbagai perilaku yang menjadikan pacar sebagai suatu kebanggaan pergaulan. Ada semacam ajang pamer pacar. Entah di sekolah, di kampus, di mall, di tempat hiburan, di pesta atau di tempat lainnya.

“Gimana Bob! Kece nggak cewek gua,” bisik Coy pada temannya. “Boleh juga. Trus, gimana dengan cewek gua,” balik si Bob, juga berbisik.

“Kalau wajah, jelas kalah sama cewek gua. Tapi soal bodi, gua akuin deh, cewek lu lebih bahenol.”

Walah! Pacar itu barang, kali !?

Karena pacaran dianggap ‘gaul’, dan untuk mendapatkan pengakuan sebagai ‘anak gaul’, banyak remaja yang belum punya pacar cepat-cepat nyari pacar. Lingkungan gaulnya pun ngumpul bareng bersama pacar.

Sekolah atau kampus menjadi ajang pacaran. Sepulang sekolah atau kuliah, kembali pacaran. Bahkan pada saat-saat lainnya, ada agenda wakuncar, apel mingguan, dan seterusnya. Begitu banyak waktu tersita untuk pacaran, menyebabkan pelajaran, kuliah dan hal-hal penting lainnya menjadi terabaikan. Padahal dana untuk pacaran diperoleh dari hasil ‘unik’ (usaha nipu kolot = orang tua). Sebab umumnya mereka belum bisa cari duit sendiri.

Diluar Nikah

Seks di luar nikah merupakan kegagalan seorang remaja mengendalikan diri sehingga menjadi budak hawa nafsu birahi, budak setan. Meskipun dalihnya, ‘atas nama cinta’. Gombal!

Kehamilan di kalangan remaja putri, ternyata bukan cerita baru. Menurut data dr Biran Afandi di Jakarta, selama 1987 saja sudah terdapat 284 remaja putri yang hamil di luar nikah. (Assalam, Oktober 2002). Tuh, kan?

Belakangan, remaja sekarang katanya makin ‘pinter’. Tapi, pinter yang keblinger. Mereka sudah mengenal aiat-alat kontrasepsi, seperti kondom, pil dan suntik anti kehamilan, termasuk hubungan seks dengan cara rythm method (pantang berkala). “Biar nggak hamil,” katanya. Begitulah kalau sudah berprinsip ARDATH: Aku Rela Ditiduri Asal Tidak Hamil. Trus, biar asal tidak dosa-nya, gimana ?

Simak dong firman Allah, “Dan janganlah kamu dekati zina (mengarah ke berbuat zina, seperti berpandang-pandangan, berdua-duaan, bergandengan, dan seterusnya), sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk.” (QS Al Isra : 32)

Antara enak dan halal.

Setelah fesyen dan fun, maka F yang ketiga adalah food (makanan-minuman). Ternyata masih ada saja remaja kita rnerasa bahwa makan di KFC, Pizza Hut, Wendys, McDonald, dan fast food ala Barat lainnya, merupakan tren dan bergengsi, tanpa mempedulikan kehalalannya. Sedangkan makan di warteg dianggapnya, yaa…kampungan lah.

Betapa noraknya kita ! Di Amrik, tempat-tempat makan seperti itu masuk kategori rendahan. Apalagi menurut ahli gizi di Amerika sendiri, ada fast food atau makanan ala Amrik yang dianggap garbage food, alias ‘makanan sampah’. Sebab, kandungan gizinya sangat tidak sesuai dengan standar gizi yang sehat untuk tubuh.

Boleh-boleh saja kita menikmati jenis makanan-minuman yang ‘bermerek dunia’. Namun sebagai muslim, kita tetap harus memperhatikan halal-haramnya. Lebih baik kita makan ala kadarnya tapi lengkap unsur gizi, protein dan seratnya serta jelas kehalalannya, tidak subhat.

Ingat, Allah telah mengingatkan kita, “…Makanlah sebagian dari makanan yang ada di bumi yang halal dan baik – halalan thayyiban – dan jangan ikuti perilaku setan, karena setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al Baqarah ; 168)

Nah, remaja muslim tinggal memilih mau jadi “generasi rabbani’ sesuai tuntunan Ilahi, atau mau jadi ‘generasi keledai’ seperti disebut dalam Al Quran surah Al Jumu’ah ayat 5, “…ibarat keledai…. Itulah seburuk-buruk perumpamaan bagi mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.”

Source: Yusuf Mansur Network

3 thoughts on “Hati-hati Terhadap Generasi Keledai

  1. sekarang malah lebih membahayakan lagi, kita sebagai orang tua menjaga betul bagaimana perilaku anak supaya bisa bergaul dengan akhlaknya….pemerintah (atau bukan atau yg mengatasnamakan pemerintah ataukepedulian sosial atau apalah)…membagikan kondom secara gratis setiap hari AIDS sedunia tiba….hallo….contoh macam apalagi yang mau diberikan kepada anak bangsa ini???….kampanye kondom gratis mengatasnamakan pencegahan AIDS???….bukankah sebaiknya yg lebih dikampanyekan “STOP FREE SEX” ???….dunia yang makin keblinger apa orang kita aja yang sok ikut2an amerika melegalkan free sex dengan membagi2kan kondom gratis??

    na’udzubillahi min dzalik….

  2. Selama ajaran agama baginya dangkal, maka bagaimanapun tetap mengkhawatirkan keadaan remaja kita.
    Kalau mereka yakin bahwa ajaran Islam benar, maka perkara haram, akan jauh dari diri seseorang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s