Dunia Islam: Serba-serbi Ulang Tahun

Memberi hadiah atau bertukar hadiah, jelas ada perintahnya. Hanya saja momentumnya memang tidak harus saat ultah. Sifatnya mutlak dan bebas, kapan saja. Bahkan kalau bisa, justru pada saat teman/saudara kita itu membutuhkan. Jadi bukan harus pada saat hari lahir dan bingkai ungkapan rasa syukur kita atas segala nikmat yang kita rasakan.

birthday islam ulang tahunDua artikel saya salin disini untuk menambah wawasan kita semua:

1.

HUKUM MERAYAKAN ULANG TAHUN ANAK

Oleh
Syaikh Muhamamd bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah perayaan ulang tahun anak termasuk tasyabbuh (tindakan menyerupai) dengan budaya orang barat yang kafir ataukah semacam cara menyenangkan dan menggembirakan hati anak dan keluarganya ?

Jawaban.
Perayaan ulang tahun anak tidak lepas dari dua hal ; dianggap sebagai ibadah, atau hanya adat kebiasaan saja. Kalau dimaksudkan sebagai ibadah, maka hal itu termasuk bid’ah dalam agama Allah. Padahal peringatan dari amalan bid’ah dan penegasan bahwa dia termasuk sesat telah datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda:

“Artinya : Jauhilah perkara-perkara baru. Sesungguhnya setiap bid’ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan berada dalam Neraka”.

Namun jika dimaksudkan sebagai adat kebiasaan saja, maka hal itu mengandung dua sisi larangan.

Pertama.
Menjadikannya sebagai salah satu hari raya yang sebenarnya bukan merupakan hari raya (‘Ied). Tindakan ini berarti suatu kelalancangan terhadap Allah dan RasulNya, dimana kita menetapkannya sebagai ‘Ied (hari raya) dalam Islam, padahal Allah dan RasulNya tidak pernah menjadikannya sebagai hari raya.

Saat memasuki kota Madinah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati dua hari raya yang digunakan kaum Anshar sebagai waktu bersenang-senang dan menganggapnya sebagai hari ‘Ied, maka beliau bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian hari yang lebih baik dari keduanya, yaitu ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha”.

Kedua.
Adanya unsur tasyabbuh (menyerupai) dengan musuh-musuh Allah. Budaya ini bukan merupakan budaya kaum muslimin, namun warisan dari non muslim. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa meniru-niru suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”.

Kemudian panjang umur bagi seseorang tidak selalu berbuah baik, kecuali kalau dihabiskan dalam menggapai keridhaan Allah dan ketaatanNya. Sebaik-baik orang adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya. Sementara orang yang paling buruk adalah manusia yang panjang umurnya dan buruk amalanya.

Karena itulah, sebagian ulama tidak menyukai do’a agar dikaruniakan umur panjang secara mutlak. Mereka kurang setuju dengan ungkapan : “Semoga Allah memanjangkan umurmu” kecuali dengan keterangan “Dalam ketaatanNya” atau “Dalam kebaikan” atau kalimat yang serupa. Alasannya umur panjang kadangkala tidak baik bagi yang bersangkutan, karena umur yang panjang jika disertai dengan amalan yang buruk -semoga Allah menjauhkan kita darinya- hanya akan membawa keburukan baginya, serta menambah siksaan dan malapetaka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (kearah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana amat teguh”. [Al-A’raf : 182-183]

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Dan janganlah sekali-kali orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah labih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka, dan bagi mereka adzab yang menghinakan”. [Ali-Imran : 178]

[Fatawa Manarul Islam 1/43]

[Disalin dari kitab Fatawa Ath-thiflul Muslim, edisi Indonesia 150 Fatwa Seputar Anak Muslim, Penyusun Yahya bin Sa’id Alu Syalwan, Penerjemah Ashim, Penerbit Griya Ilmu]

sumber: http://www.almanhaj.or.id

2.

Hukum Ulang Tahun

Pertanyaan:

Bapak Ustad Yang Terhormat, Saya pernah mendengar bahwa merayakan ulang tahun hukumnya adalah haram, karena itu adalah kebiasaan orang nasrani, sedangkan didalam ajaran islam, tidak ada pesta ulang tahun.Pertanyaan saya: Bagaimanakah ulang tahun dipandang dalam hukum islam, adakah Ayat Alqur-an atau hadist yang menguatkan larangan ulang tahun itu?Lalu bagaimanakah hukumnya kalau ada orang yang berulang tahun kemudian merayakannya di panti asuhan atau panti jompo dengan tujuan ingin berbagi kebahagiaan dengan orang-orang yang kurang mampu itu, apakah itu juga masih haram hukumnya.Terima kasih atas jawaban yang lengkap, Wassalam.

Suli Rahayu

Jawaban:

Hukum merayakan ulang tahun memang tidak didapat nash yang secara langsung melarangnya dan juga menganjurkannya. Hal itu dikembalikan kepada tradisi masyarakat setempat. Dengan catatan, tidak ada mata acara dan perilaku yang bertentangan dengan aturan Islam.

Kita tidak menemukan riwayat yang menceritakan bahwa setiap tanggal kelahiran Rasulullah SAW, beliau merayakannya atau sekedar mengingat-ingatnya. Begitu juga para shahabat, tabiin dan para ulama salafusshalih. Kita tidak pernah dengar misalnya Imam Abu Hanifah merayakan ulang tahun lalu potong kue dan tiup lilin.

Namun bila ulang tahun itu lebih banyak mudharatnya dari pada manfaatnya, apalagi menghabiskan biaya yang cukup besar, maka leibh bijaksana bila tidak dirayakan secara berlebihan.

Selain itu yang penting juga untuk diketahui bahwa dalam hukum Islam dikenal istilah “Sadd Az-Zariah”. Artinya mencegah sesuatu yang dikhawatirkan nantinya akan berakibat buruk. Karena itu ketika muncul trend qiyamullail, dikeluarkan fatwa yang meminta agar aktifitas itu tidak perlu dihidup-hidupkan.

Memang acara itu dalam rangka mencounter hura-hura malam tahun baru sekian tahun yang lalu, lalu kemudian aktifitas qiyamullail di malam tahun baru semakin menggejala di kalangan aktifis dakwah, namun ditakutkan suatu hari nanti orang akan beranggapan bahwa aktifitas seperti harus rutin dilaksanakan.

Meski awal pemikirannya cukup baik yaitu mengalihkan gairah para pemuda dari hura-hura malam tahun baru dengan terompet, campur baur muda mudi, atau pesta pora dan lainnya, dialihkan menjadi shalat malam berjamaah, tafakkur dan merenung tentang arti Islam bahkan ada doa bersama dan menangis menyesali dosa-dosa.

Tapi trend ini semakin tahun semakin luas dan para ulama mengkhawatirkan akan menimbulkan salah persepsi bagi orang awam, bahwa aktifitas ini harus rutin dikerjakan dan seolah menjadi bagian dari syariat agama ini.

Karena itu selama masih bisa ditangkal, sebelum membesar dan sulit dihilangkan, dikeluarkanlah fatwa untuk menghimbau para aktifis dakwah agar tidak perlu menyelenggarakan qiyamullail tiap malam tahun baru. Kalau mau tahajjud dan qiyamullail, silahkan dikerjakan masing-masing di rumah.

Karena itu bila dalam sebuah rumah tangga islami ingin diterapkan pola kehidupan yang Islami, menyelenggarakan ulang tahun anak bukan alternatif yang paling baik. Ini bukan berarti tradisi saling memberi hadiah tidak boleh, atau merenungi dan mensyukuri karunia yang Allah berikan tidak diizinkan. Hanya untuk melakukan aktifitas itu kan tidak harus dalam format ulang tahun.

Wallahu a‘lam bishshowab.

http://syariahonline.com/new_index.php/telusuri/view/find/ulang/ke/all/kategori/all/limit/100

====

Ucapan Selamat Ultah

Pertanyaan:

Assalaamu‘alaikum wr wb

Pak Ustadz … Saya mau tanya … Bagaimana hukum dibawah ini:
1. Memberikan dan menerima ucapan selamat/hadiah ulang tahun.
2. Ketika kita berulang tahun apakah boleh sebagai rasa syukur kita karena masih diberikan kesempatan untuk hidup, kita ungkapkan dengan menyenangkan hati saudara kita/teman (mengajak makan bersama), berinfak dan lain-lain.

Demikian pertanyaan dari saya.

Wassalaamu‘alaikum wr wb

Jawaban:

Ulang tahun kelahiran seseorang sesungguhnya tidak pernah disunnahkan untuk dirayakan dalam syariat. Karena itu hukumnya tidak pernah sampai kepada sunnah apalagi wajib. Kalau pun didasarkan pada tradisi, maka paling tinggi hukumnya mubah. Namun bila memberatkan bahkan menggunakan cara-cara yang tidak sesuai dengan syariat maka hukumnya bisa jadi maruh bahkan bisa saja sampai pada haram.

Karena memang tidak ada anjuran, maka sikap kita yang utama adalah tidak menghidup-hidupkannya. Agar tidak menjadi tradisi yang pada gilirannya dianggap sebagai suatu keharusan.

Namun bukan berarti mutlak tidak boleh merayakannya. Sebagai sebuah kasus tersendiri, tidak ada larangan juga untuk melakukannya selama cara dan tujuannya memang selaras dengan syariat.

Sedangkan memberi hadiah atau bertukar hadiah, jelas ada perintahnya. Hanya saja momentumnya memang tidak harus saat ultah. Sifatnya mutlak dan bebas, kapan saja. Bahkan kalau bisa, justru pada saat teman/saudara kita itu membutuhkan. Jadi bukan harus pada saat hari lahir.

Wallahu a‘lam bis-shawab.

Pusat Konsultasi Syariah

http://syariahonline.com/new_index.php/id/11/cn/1323

====

Hukum Memberi Selamat Dan Merayakan Hari Ulang Tahun

Pertanyaan:

Ass wr wb
Apa hukum memberi selamat ultah dan merayakan hari ulang tahun, kalo emang terlarang dalil-dalil yang melarangnya itu apa..?
Wassalam

Jawaban:

Assalamu�alaikum wr.wb
Memberi selamat ulang tahun dan merayakan hari ulang tahun adalah masalah muamalah yang bukan berasal dari tradisi Islam. Tetapi dekat dengan tradisi Kristen yang merayakan Natal (menurut mereka hari kelahiran Yesus Kristus). Jika merayakan hari natal(ulang tahun) dan mengucakpan selamatnya ikut-ikutan dengan apa yang dilakukan oleh orang kafir, maka disebut Tasyabuh yang diharamkan, Rasulullah saw. Bersabda:
من تشبه بقوم فهو منهم
� Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka termasuk mereka� (HR Ahmad dan Abu Dawud)

Sesuatu yang dibesarkan dalam Islam bukanlah tahun kelahirannya, sebagaimana juga tidak terjadi di masa Rasulullah, Sahabat dan Tabi�Insya Allah memperingati ulang tahun atau maulid Nabi saw., tetapi puncak perjuangannya yaitu Hijrah. Maka penanggalan Islam diawali dengan hijrahnya Rasur saw.

Namun, dalam Islam diperintahkan untuk mensyukuri ni�mat. Jika yang anda lakukan adalah Tasyakuran atas ni�mat hidup yang masih Allah berikan dengan tata cara yang Islami, maka hal itu dibolehkan. Wallahu a‘lam bis-shawab.

Pusat Konsultasi Syariah

http://syariahonline.com/new_index.php/id/11/cn/1305

Sumber: http://danang.wordpress.com

Sumber gambar: http://img.kapanlagi.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s