Apa Kata Islam mengenai Pemenuhan Hak Keluarga

utamakan nafkah keluarga yakni istri dan anak2 dulu baru kemudian ke yang lain2,..:)

Jazakillah Khairan ya Bunda

father son parent marriage family

father son parent marriage family

Perkawinan bukanlah persoalan kecil dan sepele, tapi merupakan persoalan penting dan besar.
‘ Aqad nikah (perkawinan) adalah sebagai suatu perjanjian yang kokoh dan suci
( MITSAAQON GHOLIIDHOO ) sebagaimana firman Allah Ta’ala.

“ Artinya : Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali,
padahal sebagian kamu telah bergaul ( bercampur ) dengan yang lain sebagai suami istri dan mereka ( istri-istrimu )
telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat”.
(An-Nisaa’ : 21).

Assalamu’alaikum,
Seandainya para suami ingat akan ijab qabul yg mereka lakukan saat pernikahan dulu adalah
Mitsaaqon Gholizhoo (4:21)

maka tentulah tak ada tindak kekekerasan
dan perilaku kesewenang-wenangan terhadap istri.

Mitsaqoon Gholizhoo adalah perjanjian setia suami kepada istri di depan Allah untuk membina, mengayomi dan mendidiknya serta membentuk keluarga yang Islami dan juga merupakan estafet amanah yang diembankan kepadanya dari orang tuanya.

Belum cukup itu, suami tersebut harus mengikrarkan kesetiaan dirinya
di depan para undangan dengan membacakan Shigah Taklik yang isinya sbb:

Saya berjanji dengan sesungguh hati bahwa saya akan menepati kewajiban saya sebagai suaimi dan akan saya pergauli isteri saya bernama …. dengan baik ( muasyarah bil ma’ruf ) menurut ajaran syariat Islam.

Sewaktu-waktu saya:
1. Meninggalkan isteri saya tersebut dua tahun berturut-turut.
2. Atau saya tidak memberi nafkah wajib kepadanya tiga bulan lamanya
3. Atau saya membiarkan (tidak memperdulikan) isteri saya itu enam bulan lamanya …..

Kewajiban memberi nafkah ada ditangan suami sesuai dengan kekuatan hasil usahanya.
Ini merupakan wujud tanggungjawab dan harga diri dia terhadap istri
dan keluarganya.

“ Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita,
oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita),
dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka …………..
(QS. An-Nisa, 4:34)

Memberi nafkah bukan terbatas pada member uang belanja
tapi lebih dari itu;
mengeluarkan sepeserpun demi keluarga (termasuk pembantu)
sudah termasuk nafkah.
Dan semua terhitung sedekah atau ibadah.

Nabi Muhammad Saw menegaskan
“ bahwa sebaik-baik dirham (uang arab) kamu adalah dirham
yang diberikan kepada keluarga kalian”.

Dari Mas’ud al-Badri رضي الله عنه dari Nabi صلی الله عليه وسلم, sabdanya:

” Jikalau seseorang lelaki memberikan nafkah kepada keluarganya dengan niat mengharapkan keridhaan Allah,
maka apa yang dinafkahkan itu adalah sebagai sedekah baginya
yakni mendapatkan pahala seperti orang yang bersedekah. ”
(Muttafaq ‘alaih)

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه pula bahwasanya Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:

“Allah Ta’ala berfirman – dalam Hadis Qudsi:
” Belanjakanlah hartamu, pasti engkau diberi nafkah harta oleh Tuhan.” (Muttafaq ‘alaih)

Abu Hurairah رضي الله عنه berkata:
Ada seseorang datang kepada Nabi صلی الله عليه وسلم dan berkata:

Wahai Rasulullah, aku mempunyai satu dinar ?
Beliau bersabda: ” Nafkahilah dirimu sendiri. ”

Ia berkata: Aku mempunyai satu dinar lagi.
Beliau bersabda: “Nafkahi anakmu.”
Ia berkata: Aku mempunyai satu dinar lagi.

Beliau bersabda: “Nafkahi istrimu.”
Ia berkata: Aku mempunyai satu dinar lagi.
Beliau bersabda: “Nafkahi pembantumu.”

Ia berkata lagi: Aku mempunyai satu dinar lagi.
Beliau bersabda: “Engkau lebih tahu (siapa yang harus diberi nafkah).”

Bagaimana bila suami pelit, tidak memberi ?
Ini jawabannya

Hadis riwayat Aisyah رضي الله عنها, ia berkata:Hindun binti Utbah,
istri Abu Sufyan, datang menemui Rasulullah صلی الله عليه وسلم lalu berkata:

Wahai Rasulullah! Sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang lelaki yang kikir, dia tidak pernah memberikan nafkah kepadaku yang dapat mencukupi kebutuhanku dan anak-anakku kecuali apa yang aku ambil dari hartanya tanpa sepengetahuannya.

Apakah aku berdosa karena itu ?
Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:

Ambillah dari hartanya dengan cara yang baik yang dapat mencukupimu dan mencukupi anak-anakmu ( HR. Muttafaq alaih )

Dan bila ia marah.
Ini jawabannya:

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwa Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:
” Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah,
hendaklah seseorang di antara kamu mulai ( memberi nafkah )
kepada orang yang menjadi tanggungannya.

Para istri akan berkata: “Berikan aku makan atau ceraikan aku.
( HR. Darrul Quthni )

Setelah kewajiban menafkahkan keluarga terpenuhi maka dibolehkan untk membantu karib kerabat/saudara lainnya bahkan orang tua.

“ Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan ”

Jawablah: ” Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. ”

Dan apa saja kebaikan yang kamu buat,
maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya. (QS. Al-Baqarah, 2:215)

Nasihat Nabi Saw:

” Hai anak Adam, sesungguhnya jikalau engkau memberikan apa-apa yang kelebihan padamu, sebenarnya hal itu adalah lebih baik untukmu dan jikalau engkau tahan tidak engkau berikan siapapun,
maka hal itu adalah menjadikan keburukan untukmu.

Engkau tidak akan tercela karena adanya kecukupan
maksudnya menurut syariat engkau tidak dianggap salah,
jikalau kehidupanmu itu dlm keadaan yang cukup dan tidak berlebih2an.

Lagi pula mulailah dalam membelanjakan nafkah kepada orang yang wajib engkau nafkahi.
Tangan yang bagian atas adalah lebih baik daripada tangan yang bagian bawah – yakni yang memberi itu lebih baik daripada yang meminta.” ( Riwayat Muslim )

Ingat seluruh kegitan orang2 yang sudah menikah baik suami maupun istri tergolong ibadah, sebab nikah itu sendiri ibadah !

“ Barangsiapa menikah,
maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya.
Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi ”. (Hadist Riwayat Thabrani dan Hakim).

Jadilah Suami Idaman para Istri ….

“ Sebaik-baik orang diantara kamu adalah orang yang paling baik terhadap isterinya dan aku (Rasulullah) adalah orang yang paling baik terhadap istriku ” ( HR. Thabrani dan Tirmizi )

Sumber artikel: referensi Istri

One thought on “Apa Kata Islam mengenai Pemenuhan Hak Keluarga

  1. Indeed .. just to add .. Sheikh Ashraf ‘Ali Thānawi (rahmatullaahi ‘alaih) once said: Do not display laziness in executing any act of worship.

    So yes, If we build this mentality that I gotta perform my duties and do my part, then the result would not only profit one individual but it would profit the whole Ummah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s