Korban dari Sistem Pembenaran Penyalahgunaan Dana

kesejahteraan welthiness birokrasi sistem

kesejahteraan wealthiness birokrasi sistem

Sudah bukan hal yang asing di telinga kita bahwasanya seringkali rekan-rekan kita di lini PNS menyalahkan sistem atas kebohongan-kebohongan yang terjadi terkait dengan pemutaran dana kesejahteraan mereka. Apa yang mesti dilakukan?

Contoh kasus ialah perjalanan dinas 4 orang yang sudah dianggarkan untuk dua hari acapkali dilaksanakan oleh personil kurang dari 4 orang dan tak jarang ternyata malah kurang dari dua hari. Kemanakah larinya lebihnya dana? Yang paling sering saya temukan ialah bahwasanya dana2 tersebut akan masuk ke pos-pos kesejahteraan karyawan alih-alih untuk THR dan sebagainya. Apakah ada ketentuan seperti itu atas pengelolaan dana berlebih alias “kembalian” pada sistem kepegawaian yang berjalan? setahu saya sih tidak, alih-alih hal itu seringkali dipandang sebagai kehebatan pihak penerima dana dalam mengelola dana yang diterimanya. Gak masalah tokh?

Menurut hemat saya, satu hal ialah pengelolaan dana seperti itu tidak mendapatkan aturan yang jelas dari pemerintah, sehingga menimbulkan “lubang permainan” dimana pihak penerima dana akan menjadi pihak yang cukup lemah bilamana pemeriksaan dilakukan atas mereka. Namun, ada mungkin yang akan menanggapi, “lha wong pengelolaan seperti itu atas rekomendasi pihak yang akan “memeriksa” nantinya, jadi aman dong buat kami yang menerima dananya”. Saya melihat, justru itulah yang akan membuka “pintu permainan” para oknum alih-alih balas jasa pelicinan proses ataupun sekadar administrasi. Bukannya para pemeriksa digaji untuk melakukan pemeriksaan? ya betul digaji, tapi mungkin tidak cukup untuk kebutuhan keseharian mereka jadi mereka terkadang mengharapkan imbalan itu dari pihak yang diperiksa. Lalu kemudian, sadar akan hal ini, beberapa teman kita di pemerintahan berasumsi, “kalau memang kesejahteraan yang mereka cari, kita tingkatkan saja penghasilan mereka sehingga tidak usah lagi mereka mengharapkan yang demikian pada obyek kerja mereka”. Solusi? belum tentu, alih-alih justru terbentuklah lingkaran setan yang tak diketahui lagi mana ujung-pangkalnya yang senantiasa disebut-sebut sebagai “sistem”. Hindari keragu-raguan maka penetasan masalah “korban sistem” akan terwujud dalam waktu yang tidak lama lagi.

Jadi apa solusinya? Saya merasa satu hal yang mesti dibenahi ialah persepsi bekerja dari setiap pegawainya sebab bila sudah dikatakan sistem yang mesti bertanggung jawab atas terbentuknya siklus “murka Allah” seperti itu berarti mayoritas anggota dari sistem itu telah mempraktekkannya dan bisa jadi sudah tahunan dan membentuk pola pikir mereka untuk senantiasa menyuburkan sistem seperti itu. Apakah angkatan-angkatan yang baru masuk alas CPNS dengan idelaisme-nya dapat memperbaiki keadaan? Sejauh yang saya tahu ialah tidak bisa, sebab yang justru banyak terjadi ialah sebaliknya, mereka-mereka itulah yang termakan oleh sistem yang berjalan alias status quo,.. lagi-lagi sebagai korban sistem. Sehingga persepsi yang benar bagi setiap pegawai dalam melaksanakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya ialah bekerja untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat yang dengan hanya bisa didapatkan bilamana pekerjaan itu dilakukan hanya untuk Allah semata. Bingung? Walaupun berat dan tidak mudah merubah orientasi hidup kita untuk keridhaan Allah semata, yakinlah bahwa Allah Maha Menatap dan tidak pernah tidur, yang pasti akan menolong kita bila kita mau dan berusaha untuk menolong kita sendiri dan orang sekita kita dalam memperbaiki keadaan yang berjalan.

Ya menurut saya setiap anggota dari sistem itu mesti diingatkan kembali untuk mendekatkan diri pada Allah. Setiap angota itu meliputi mereka yang di struktur rendah sampai dengan yang ada di “kursi empuk”. Sehingga bila ditemukan pelanggaran yang acuannya ialah dapat mengurangi keridhaan Allah, pelanggaran itu mesti di perbaiki kemudian dicegah kejadiannya. Oleh siapa koreksi itu dilakukan? oleh seluruh jajaran anggota sistem yang artinya juga sistem mesti disesuaikan untuk mengakomodir sistem “tegur-sapa” itu. Ego, kepentingan, dan lain-lain penyakit hati lainnya sebaiknya ditundukkan dengan penggunaan sistem yang berorientasi keridhaan Allah. Apakah penyesuaian sistem sama dengan revolusi? menurut saya tidak, sebab akan jadi tidak ada manfaatnya bilamana pemerintah di kudeta tapi rakyatnya tidak siap. Apakah tangan besi menjadi solusinya? Tidak juga, sebab yang ingin kita hidupkan ialah kehidupan bahagia dunia akhirat, bukan hidup dalam ketakutan. Upaya bersama dalam mendekatiNya dalam menerapkan nilai-nilaiNya dalam kehidupan keseharian kita pasti akan menghasilkan. Sudah hukum Allah alias sunnatullah bahwasanya siapa berusaha, dia berhasil. Insya Allah.

Baik kita akan coba benahi diri kita dan lingkungan kita sekarang, tapi berapa lama? Menurut saya, belum tentu kita sendiri yang akan menikmati keberkahan hidup itu. Justru biarlah kita bantu dirikan batu-batu pijakan untuk anak-anak maupun generasi-generasi kita berikutnya dalam mencapai keridhaan Allah itu. Sehingga padasaatnya nanti kita akan dengan bangga menyatakannya sebagai hasil kerja kita pada yang menguasai hidup, mati kita yang menguasai Hari Pembalasan, bahwasanya saya sudah berusaha sekuat saya untukMu.

Mari saya dan anda dan kita semua bersama-sama dalam kapasitasnya masing-masing untuk menjadikan tempat kita berpijak menjadi tempat yang lebih baik, dimanapun kita berada.

Semoga Allah senantiasa memudahkan langkah2 kita. Bagaimana menurut anda?

(Aji Prabowo/ajiprabowo.wordpress.com)
Sumber berita pengalaman:Istri dan Ibunda tercinta (red. makasih ya telah mengeluhkan hal ini)

Sumber gambar: mukhlis-ginting.web.ugm.ac.id

5 thoughts on “Korban dari Sistem Pembenaran Penyalahgunaan Dana

  1. Hehehe….. sumber ceritanya ditulis doong, berdasarkan cerita n pengalaman istri dan ibuku😛.
    Wah….klo gitu jd PNS itu gak aman dooong krn berada dlm lingkaran setan….
    Maunya sih merubah sistem… tapi skr yg ada blm bisa tuh, gmn doong?
    Berhenti aja kali ya? Nanti klo semua PNS idealis berhenti gak ada yg benerin sistemnya doong….!

  2. Ya itu sih dikembalikan kepada masing2,.. kalau alasannya ialah: jikalau semua PNS idealis berhenti gak ada yang benerin sistemnya dooong,.. maka pertanyaannya kemudian ialah: Bukannya selama ini para PNS idealis tetap bekerja sebagai PNS? dan jika benar, apakah sistemnya sudah menjadi bener sesuai keridhaan Allah bukannya malah murkaNya?

    Thanks🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s